Sumsel

Efek Domino Konflik Timur Tengah, Harga Karet Sumsel Menguat, Petani Diminta Jaga Kualitas

Kurnia | 17 April 2026, 16:56 WIB
Efek Domino Konflik Timur Tengah, Harga Karet Sumsel Menguat, Petani Diminta Jaga Kualitas
Petani karet. (ist)

AKURAT.CO SUMSEL Gejolak geopolitik di Timur Tengah ternyata tak hanya berdampak pada sektor energi dan perdagangan global, tetapi juga dirasakan langsung oleh petani karet di Sumatera Selatan (Sumsel).

Dalam beberapa pekan terakhir, harga karet di tingkat petani mulai menunjukkan tren kenaikan.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, Ichwansyah, mengungkapkan bahwa konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu gangguan rantai pasok global, sehingga berdampak pada ketersediaan komoditas di pasar internasional.

“Situasi konflik ini membuat stok di pasar dunia menjadi terbatas, sementara permintaan tetap tinggi. Kondisi ini yang mendorong harga komoditas, termasuk karet, cenderung naik,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga: Modus Pinjam 3 Hari, Pria di Palembang Tertipu Rp90 Juta oleh Teman Sendiri

Saat ini, harga karet di tingkat petani Sumsel berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram untuk Kadar Karet Kering (KKK) 40 persen. Kenaikan ini disebut sudah berlangsung dalam dua bulan terakhir.

Menurut Ichwansyah, tren positif ini diperkirakan masih akan berlanjut selama ketidakstabilan global belum mereda. Permintaan tinggi dari pasar internasional menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap menguat.

“Selama kondisi global belum stabil, harga kemungkinan masih akan bertahan bahkan meningkat, karena kebutuhan pasar dunia cukup besar,” katanya.

Namun di tengah peluang tersebut, petani diingatkan untuk tidak terlena. Pemerintah daerah mendorong peningkatan kualitas produksi agar petani bisa memperoleh harga jual yang lebih kompetitif.

Salah satu langkah yang dianjurkan adalah bergabung dengan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), yang berperan dalam menjaga standar mutu karet sebelum dipasarkan ke industri.

“Melalui UPPB, kualitas karet bisa lebih terjamin. Ini penting agar petani punya daya tawar lebih tinggi dan tidak dirugikan dalam rantai distribusi,” jelasnya.

Sumatera Selatan sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi karet terbesar di Indonesia, dengan luas lahan mencapai sekitar 1,2 juta hektare.

Wilayah seperti Muara Enim dan Banyuasin menjadi kontributor utama produksi karet di provinsi tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia