Sumsel

Pj Gubernur Sumsel, Elen Setiadi Tegaskan Komitmen Tekan Angka Kemiskinan

Haris Ma'ani | 10 Agustus 2024, 14:02 WIB
Pj Gubernur Sumsel, Elen Setiadi Tegaskan Komitmen Tekan Angka Kemiskinan

AKURAT.CO SUMSEL Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan, Elen Setiadi menegaskan komitmennya untuk terus menekan angka kemiskinan di wilayahnya. Hal ini disampaikannya dalam rapat sekretariat bersama yang membahas isu pembangunan manusia dan kebudayaan, khususnya terkait upaya penurunan kemiskinan.

Dalam rapat tersebut, Elen menjelaskan bahwa konsep kemiskinan yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengacu pada pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach).

Kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar, baik makanan maupun non-makanan, yang diukur berdasarkan garis kemiskinan.

Elen juga menyoroti kompleksitas kemiskinan ekstrem sebagai persoalan multidimensi. Ia menyebut bahwa masyarakat yang tergolong miskin ekstrem sering kali menghadapi kendala dalam mengakses kebutuhan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan hunian yang layak. Selain itu, mereka juga cenderung memiliki tingkat produktivitas yang rendah dan pendapatan yang minim.

"Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin secara nasional pada Maret 2024 tercatat sebesar 25,22 juta orang, menurun sebanyak 680.000 orang dibandingkan dengan Maret 2023. Di Sumatera Selatan, jumlah penduduk miskin mencapai 984.240 orang pada tahun 2024, menjadikan provinsi ini berada di peringkat keenam tertinggi di Indonesia," katanya, Jumat (9/8/2024).

Namun, Elen mencatat bahwa tren kemiskinan di Sumsel menunjukkan penurunan yang signifikan. Pada Maret 2024, tingkat kemiskinan di provinsi tersebut turun menjadi 10,97 persen dari 12,71 persen pada Maret 2019.

Selain itu, seluruh 17 kabupaten/kota di Sumsel juga mengalami penurunan tingkat kemiskinan antara Maret 2023 dan Maret 2024.

"Sebanyak tujuh kabupaten/kota, termasuk OKU Selatan, PALI, Muara Enim, Palembang, OKU Timur, Banyuasin, dan Pagar Alam, berhasil mencatat tingkat kemiskinan di bawah 10 persen, dengan Kota Pagar Alam menjadi yang terbaik dengan angka 8,18 persen," jelasnya.

Elen juga menyoroti penurunan yang signifikan dalam tingkat kemiskinan ekstrem di Sumsel. Pada Maret 2024, tingkat kemiskinan ekstrem mencapai 0,59 persen, turun drastis dari 5,31 persen pada Maret 2020.

Tingkat kemiskinan ekstrem di Sumsel kini lebih rendah dibandingkan capaian nasional yang berada di angka 0,83 persen. Dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, sebanyak 14 di antaranya mencatat angka kemiskinan ekstrem yang mendekati nol persen, dengan hanya lima kabupaten/kota yang masih berada di atas rata-rata provinsi.

Dalam rangka mencapai target nol persen kemiskinan ekstrem pada tahun 2024, sebagaimana yang diamanatkan oleh Inpres Nomor 4/2022 tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, Elen menekankan pentingnya keterpaduan dan sinergi dalam pelaksanaan strategi percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem.

"Strategi tersebut mencakup penurunan beban pengeluaran masyarakat melalui pengendalian harga bahan pokok, program Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Universal Health Coverage (UHC). Selain itu, peningkatan pendapatan masyarakat miskin melalui bantuan usaha ekonomi produktif dan pengembangan usaha kecil juga menjadi fokus utama," ungkap Elen.

Selanjutnya, Elen menekankan pentingnya pengurangan kantong-kantong kemiskinan melalui optimalisasi pembangunan infrastruktur dasar, seperti akses air minum dan sanitasi yang layak, serta pelaksanaan Gerakan Pembangunan Sanitasi Serentak dan Gerakan Bedah Rumah Secara Serentak.

Sementara, Kepala OJK Sumsel Babel, Arifin Susanto yang juga hadir dalam rapat tersebut, menyatakan bahwa pertemuan kali ini merupakan rapat kedua dari sekretariat bersama. Rapat ini bertujuan untuk memajukan perekonomian dan menekan inflasi di Sumatera Selatan.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menambahkan bahwa BPS telah melakukan penghitungan kemiskinan makro secara periodik dari Maret hingga September 2024 dengan pendekatan ekonomi.

"Selain itu, kemiskinan mikro menggunakan metode perhitungan data non-moneter dan gagasan multi dimensi," tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Haris Ma'ani
H
Editor
Hermanto