Sumsel

Pj Gubernur Sumsel Elen Setiadi Sebut Inflasi Masih Terkendali, Pemprov Siapkan Strategi Penting

Haris Ma'ani | 2 Agustus 2024, 11:00 WIB
Pj Gubernur Sumsel Elen Setiadi Sebut Inflasi Masih Terkendali, Pemprov Siapkan Strategi Penting

AKURAT.CO SUMSEL Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan, Elen Setiadi menghadiri acara Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Bulan Agustus 2024 yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel. Acara yang berlangsung di Graha Bina Praja Pemprov Sumsel ini juga dihadiri oleh Kepala BPS Provinsi Sumsel, Moh. Wahyu Yulianto.

Dalam rilis kali ini, BPS mengungkapkan bahwa Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi year on year (y-o-y) sebesar 1,87 persen untuk bulan Juli 2024.

Indeks Harga Konsumen (IHK) di provinsi ini tercatat sebesar 106,11. Kota Palembang mengalami inflasi tertinggi dengan angka 2,09 persen, sementara Kabupaten Muara Enim mencatat inflasi terendah sebesar 1,04 persen.

Kenaikan harga yang berkontribusi terhadap inflasi meliputi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 2,02 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,17 persen, serta pendidikan yang mengalami lonjakan 2,86 persen.

Namun, kelompok pakaian dan alas kaki, serta perlengkapan rumah tangga menunjukkan penurunan, masing-masing sebesar 1,40 persen dan 0,86 persen.

Tingkat deflasi month to month (m-to-m) bulan Juli 2024 tercatat 0,29 persen, sedangkan tingkat inflasi year to date (y-to-d) adalah 0,35 persen.

Pj Gubernur Sumsel, Elen Setiadi menanggapi hasil rilis tersebut dengan optimis. Dalam keterangannya, Elen mengungkapkan bahwa meskipun Sumsel mengalami inflasi, angka tersebut masih di bawah rata-rata nasional dan berada dalam kendali yang baik.

"Kepala BPS menyatakan bahwa inflasi bulan Juli menunjukkan deflasi. Inflasi tetap di atas 2%, jauh di bawah rata-rata nasional. Secara keseluruhan, inflasi Sumsel tidak meningkat," ujar Elen Setiadi, Kamis (1/8/2024).

Elen menjelaskan bahwa deflasi pada beberapa komoditas seperti cabai merah, bawang merah, dan tomat disebabkan oleh pasokan yang melimpah.

Di sisi lain, inflasi yang terjadi juga bersifat situasional, seperti biaya pendidikan yang cenderung meningkat setiap tahun. Ia juga mencatat beberapa faktor kejutan, seperti kenaikan harga emas dan peralatan skincare, yang turut menyumbang inflasi.

Mengenai komoditas beras, Elen menyatakan bahwa inflasi yang bersumber dari beras telah menjadi perhatian serius bagi Pemprov Sumsel.

Pemerintah daerah telah menyiapkan strategi untuk mengatasi masalah ini dengan mengundang perusahaan terkait dan Bulog untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam pengendalian harga beras.

"Untuk mengontrol inflasi yang disebabkan oleh beras, kami sudah menyiapkan beberapa rencana. Untuk memastikan harga beras tetap stabil, kami akan bekerja sama dengan berbagai pihak," tambahnya.

BPS juga merilis data mengenai Nilai Tukar Petani (NTP) yang menunjukkan peningkatan sebesar 1,45 persen pada bulan Juli 2024. NTP bulan Juli tercatat sebesar 124,18, naik dari 122,40 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh subsektor seperti tanaman pangan, perkebunan, serta perikanan budidaya.

Namun, beberapa subsektor mengalami penurunan, seperti hortikultura yang turun 4,12 persen dan peternakan yang mengalami penurunan sebesar 1,48 persen dan Perikanan Tangkap 0,20 persen. *

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Haris Ma'ani
H
Editor
Hermanto