Timnas Indonesia Tanpa Nahkoda, PSSI Fokus Bangun Sistem Sebelum Pilih Pelatih Baru

AKURAT.CO SUMSEL Setelah resmi berpisah dengan Patrick Kluivert pada 16 Oktober lalu, posisi pelatih kepala Timnas Indonesia hingga kini masih kosong.
Namun, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menegaskan tak ingin terburu-buru menentukan sosok pengganti.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menilai bahwa penunjukan pelatih Timnas Indonesia tidak boleh dilakukan secara tergesa karena menyangkut arah jangka panjang sepak bola nasional.
“Saya sudah bertemu Pak Sumardji, bicara dengan Direktur Teknik dan Sekjen. Nanti BTN dan Direktur Teknik yang akan mencari calon pelatih, kemudian dilaporkan ke Ketua Umum. Setelah itu akan dibahas dalam rapat Exco,” ujar Erick dalam konferensi pers di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (24/10/2025).
Menurut Erick, proses pemilihan pelatih harus melalui pertimbangan matang, termasuk kesesuaian dengan road map PSSI menuju Piala Asia 2027 dan Piala Dunia.
Baca Juga: Perkenalan Lewat Medsos Berujung Petaka, Remaja 15 Tahun Diduga Disetubuhi
“Kami ingin pelatih yang tidak hanya menang di laga, tapi juga bisa membangun sistem dan jenjang kepelatihan dari atas hingga ke level usia muda. Jadi, bukan sekadar nama besar, tapi kualitas dan visi jangka panjang,” tegasnya.
Dengan masih kosongnya kursi pelatih, peluang Timnas Indonesia absen di FIFA Matchday November 2025 cukup besar. Erick tak menampik hal itu dan menilai langkah menunda laga lebih baik dibanding tampil tanpa persiapan matang.
“Kalau pelatihnya belum ada, ya mungkin kita tidak bisa tergesa-gesa ikut FIFA Matchday, walaupun sebelumnya sudah kita rencanakan. Ini soal pembangunan jangka panjang, bukan hanya pertandingan sesaat,” katanya.
Erick juga menegaskan bahwa target utama PSSI saat ini bukan sekadar menjaga peringkat FIFA, tetapi menyiapkan fondasi kuat untuk menghadapi turnamen besar mendatang.
Absennya pelatih kepala justru menjadi momentum bagi PSSI untuk memperkuat sistem pembinaan dan infrastruktur teknis Timnas. Erick menilai, keberhasilan Timnas di masa depan tidak bisa hanya bergantung pada figur pelatih, tetapi pada sistem yang solid dan berkesinambungan.
“Maunya strata kepelatihan kita lengkap. Dari akademi, klub, sampai Timnas senior harus punya filosofi yang sama. Ini yang sedang kita bangun bersama,” tutup Erick.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









