Sumsel

Kapolri Endus Bahaya Paham Neo Nazi dan White Supremacy Incar Anak di Bawah Umur

Kurnia | 13 Februari 2026, 09:00 WIB
Kapolri Endus Bahaya Paham Neo Nazi dan White Supremacy Incar Anak di Bawah Umur

AKURAT.CO SUMSEL Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan peringatan keras terkait munculnya tren radikalisme baru yang menyasar generasi muda. Paham-paham ekstrem seperti Neo-Nazi, White Supremacy, hingga narasi Natural Selection kini mulai masuk ke Indonesia melalui ruang digital dan mengincar anak-anak di bawah umur sebagai target utama.

Hal ini disampaikan Kapolri saat membuka kegiatan retret Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) di Satlat Brimob, Bogor, Kamis (12/2/2026). Menurut Sigit, temuan ini merupakan hasil pemantauan intensif dari jajaran Densus 88 Antiteror Polri.

Jenderal Sigit menjelaskan bahwa ideologi ini secara garis besar mendoktrin pengikutnya untuk memandang satu ras atau kelompok tertentu lebih unggul dibandingkan yang lain. Ia meminta para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak di rumah.

"Tolong dicek ketika anak kita mulai menunjukkan perilaku mencurigakan, seperti sering menyendiri atau kurang berkomunikasi dengan keluarga. Tolong digali dan ajak mereka bicara," pesan Jenderal Sigit kepada para peserta.

Baca Juga: Cek Pasar di Palembang, Mendag Klaim MBG Tak Picu Kenaikan Harga Pangan

Di sisi lain, Densus 88 Antiteror Polri mengungkap adanya komunitas di media sosial yang menjadi pintu masuk ideologi kekerasan tersebut. Komunitas ini dikenal dengan nama True Crime Community (TCC).

Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Eka, menyebutkan bahwa kelompok ini tidak memiliki struktur organisasi formal, melainkan tumbuh secara organik di ruang digital. Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 70 anak di Indonesia telah terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui grup-grup tersebut.

Sebanyak 70 anak yang terpapar ideologi kekerasan ini tersebar di 19 provinsi di Indonesia. Konsentrasi tertinggi ditemukan di Pulau Jawa, dengan rincian DKI Jakarta sebanyak 15 anak, Jawa Barat 12 anak, Jawa Timur 11 anak, dan Jawa Tengah 9 anak. Selebihnya, sebaran korban terdeteksi mulai dari wilayah Bali, Sumatera, hingga Kalimantan dan Sulawesi.

Beberapa grup yang dipantau kepolisian antara lain FTCI Film True Crime Indonesia, TCC Reborn, hingga kelompok Anarko Libertarian. Polri menegaskan bahwa fenomena ini merupakan pertemuan antara minat individu terhadap kekerasan dengan sensasionalisme media di ruang digital yang bersifat lintas negara (transnasional).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia