Larangan Dicabut, Pengecer Gas Elpiji 3 Kg di Palembang Bisa Berjualan Lagi

AKURAT.CO SUMSEL Setelah sempat dilarang, pengecer gas elpiji 3 kilogram (kg) kini diperbolehkan kembali menjual gas subsidi. Keputusan ini membawa angin segar bagi pedagang kecil yang selama ini mengandalkan penjualan gas melon sebagai sumber penghasilan utama.
Sunarti (50), seorang pengecer di Kecamatan Kemuning, Palembang, mengaku lega setelah kebijakan ini diterapkan kembali. Selama lebih dari 10 tahun, ia menjual gas elpiji kepada warga sekitar. Namun, saat larangan penjualan diberlakukan, ia kebingungan harus berbuat apa dengan stok tabung yang masih tersimpan di warungnya.
"Saya masih memiliki stok 50 tabung, jadi jika larangan itu tetap berlaku, saya tidak tahu harus berbuat apa. Syukurlah, sekarang sudah diperbolehkan lagi," ujar Nur, Selasa (4/2/2025).
Tidak hanya pengecer, pedagang kecil yang mengandalkan gas elpiji untuk usaha mereka juga ikut merasakan dampaknya. Nurhayun (45), seorang penjual nasi di Kecamatan Kemuning, mengaku kesulitan mendapatkan gas saat hanya boleh dijual di pangkalan.
"Kalau ke pangkalan jaraknya cukup jauh, belum lagi harus antre. Sebenarnya di warung lebih mahal sedikit, tapi lebih praktis dan hemat waktu," kata Sunarti.
Baca Juga: Guru SMP di Palembang Disekap dan Diancam dengan Pistol, Begini Kronologinya
Dengan diperbolehkannya kembali pengecer menjual gas, ia merasa usahanya lebih stabil karena tidak perlu lagi kesulitan mencari stok.
Meskipun aturan ini kembali diberlakukan, pengecer gas elpiji masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan stok dari pangkalan dan fluktuasi harga.
Ahmad, pengecer lainnya, mengatakan bahwa saat menjelang hari besar keagamaan, kelangkaan gas sering terjadi.
"Tiap tahun pasti ada gas yang sulit dicari, apalagi pas Lebaran. Yang beli banyak, tapi stok dari pangkalan cepat habis," ujarnya.
Harga dari pangkalan yang dijual Rp 21.000 per tabung biasanya dijual kembali seharga Rp 25.000 di warung. Namun, keuntungan yang didapat tidak terlalu besar karena harus memperhitungkan ongkos transportasi dan antrean panjang.
"Untungnya kecil, cuma Rp 4.000 per tabung, belum lagi ongkos bensin dan waktu yang terbuang untuk antre. Tapi warga tetap beli karena lebih mudah daripada harus ke pangkalan sendiri," jelasnya. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









