Sumsel

Analisis Psikologis Pelaku KDRT yang Sekap Istri Hingga Tewas

Maman Suparman | 28 Januari 2025, 21:00 WIB
Analisis Psikologis Pelaku KDRT yang Sekap Istri Hingga Tewas

AKURAT.CO SUMSEL Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa seorang ibu rumah tangga berinisial SI (24) di Palembang mengejutkan publik.

SI ditemukan dalam kondisi sangat memprihatinkan, tinggal kulit dan tulang, sebelum akhirnya meninggal dunia di RS Hermina Jakabaring pada Rabu (22/7/2025).

Tragedi ini mengungkap dugaan penyekapan oleh suaminya, WS (25), yang menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Psikolog Klinis RSUD Siti Fatimah Palembang, Syarkoni, menyatakan bahwa kasus ini perlu dilihat dari berbagai sisi, termasuk aspek ekonomi dan kejiwaan.

“Masalah ekonomi kerap menjadi pemicu utama perselisihan dalam rumah tangga. Kondisi ini dapat berdampak pada dinamika hubungan pasangan dan berpotensi menimbulkan tindakan kekerasan,” ujar Syarkoni, Selasa (28/1/2025).

Namun, Syarkoni menekankan bahwa faktor kejiwaan juga berperan signifikan. Penyekapan yang dilakukan WS menunjukkan adanya masalah dalam pengelolaan emosional.

“Kesulitan dalam mengendalikan emosi dapat memicu perilaku agresif, baik secara verbal maupun fisik. Situasi ini sering kali berkaitan dengan tekanan finansial atau pengalaman traumatis di masa lampau,” jelasnya.

Baca Juga: Terkuak! Ini Motif Pelaku Diduga Sekap Istri Hingga Meninggal Dunia di Palembang

Menurut teori psikoanalisis, tindakan mengekang pasangan dapat dipengaruhi oleh pengalaman traumatis sebelumnya. Syarkoni mengungkapkan,

“Jika pelaku pernah mengalami perlakuan serupa di masa kecil, itu bisa menjadi alasan mengapa ia mengekang istrinya. Ini membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk memastikan.”

Keterangan keluarga menyebutkan bahwa WS dikenal sebagai pribadi emosional dan fanatik terhadap agama. Namun, hal ini tidak bisa menjadi bukti langsung adanya gangguan kejiwaan tanpa pemeriksaan medis.

Dari sisi korban, Syarkoni menduga SI memiliki kepribadian yang cenderung tertutup, sehingga tidak menceritakan masalahnya kepada keluarga atau tetangga.

“Mungkin ia merasa tertekan, khawatir, atau berada di bawah ancaman, sehingga memilih untuk tetap diam,” ujarnya.

Lingkungan sekitar juga dianggap memiliki tanggung jawab yang signifikan. Syarkoni menekankan bahwa masyarakat cenderung tidak ingin terlibat dalam masalah rumah tangga seseorang kecuali kondisinya sudah kritis.

“Tokoh masyarakat atau pengurus RT seharusnya lebih sensitif terhadap keadaan warganya. Peran mereka sangat penting dalam mencegah terjadinya konflik serupa,” tambahnya. (Kurnia)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia