Sumsel
HL Sumsel

21 Mei dalam Sejarah: Soeharto Mundur Usai Rupiah Ambruk dan Ribuan Mahasiswa Geruduk Gedung DPR

Septiyanti Dwi Cahyani | 21 Mei 2026, 14:17 WIB
21 Mei dalam Sejarah: Soeharto Mundur Usai Rupiah Ambruk dan Ribuan Mahasiswa Geruduk Gedung DPR
Demo besar-besaran mahasiswa 21 Mei 1998. (Dok. papuapegunungankpu.go.id)

AKURAT. CO SUMSEL - Ada salah satu momen paling bersejarah di Indonesia terjadi pada tanggal 21 Mei.

Tepatnya pada 21 Mei 1998. Pada hari itu, Presiden ke 2 RI, Soeharto, resmi mengundurkan diri setelah 32 tahun memimpin Indonesia di bawah pemerintahan Orde Baru.

Pengunduran diri tersebut terjadi di tengah krisis moneter yang melanda Indonesia sejak 1997 dan mengguncang berbagai sektor kehidupan.

Baca Juga: Suzuki Burgman 150 Siap Guncang NMAX dan PCX, Fitur Premiumnya Bikin Penasaran

Nilai tukar rupiah anjlok, inflasi melonjak, harga kebutuhan pokok melambung, dan daya beli masyarakat merosot tajam.

Di sisi lain, gelombang demonstrasi mahasiswa dan desakan reformasi juga terus meluas di berbagai daerah.

Masyarakat menuntut perubahan pemerintahan serta mengakhiri praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang dianggap telah mengakar selama era Orde Baru.

Baca Juga: Cek Harga Terbaru Emas Perhiasan Palembang Hari Ini Kamis 21 Mei 2026

Padahal, Soeharto baru saja terpilih kembali untuk ketujuh kalinya sebagai Presiden RI pada Maret 1998.

Namun tekanan ekonomi, politik, dan sosial yang semakin besar memaksanya untuk meletakkan jabatan. Sesuai amanat konstitusi, Wakil Presiden BJ Habibie kemudian melanjutkan estafet kepemimpinan nasional.

Pengumuman itu menjadi puncak dari rangkaian kerusuhan dan aksi protes besar yang berlangsung selama berbulan-bulan di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 1998.

Baca Juga: Dinkes Palembang Waspada Ledakan TBC, 20 Kelurahan Jadi Fokus Pengawasan

Ribuan Mahasiswa Duduki Gedung DPR/MPR

Gelombang demonstrasi yang besar menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat runtuhnya pemerintahan Soeharto kala itu.

Sejak 18 Mei 1998, puluhan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek mulai menduduki Gedung DPR dan MPR di Jakarta.

Baca Juga: Jadwal dan Grup Piala Dunia 2026 Lengkap, Argentina hingga Brasil Siap Tempur

Mereka memadati pelataran gedung, lorong-lorong, taman, hingga menaiki kubah DPR/MPR.

Aksi tersebut menjadi salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

Tidak hanya mahasiswa, sejumlah tokoh nasional juga hadir dan bergabung bersama massa aksi.

Baca Juga: Link Resmi Beli Tiket Konser Westlife Jakarta 2027 Dibuka, Ini Harga dan Jadwal War Ticket di GBK

Berbagai organisasi kemasyarakatan, pemuda, keagamaan, hingga kelompok mahasiswa yang berada di dalam maupun luar gedung DPR juga menyerukan agar ABRI berpihak kepada rakyat.

Mereka mendesak MPR segera menggelar sidang istimewa untuk menyelesaikan krisis politik dan ekonomi yang semakin memburuk.

Selain itu, massa aksi juga menuntut dihentikannya tindakan represif terhadap pers, termasuk pembatasan terhadap televisi dan radio swasta.

Baca Juga: Viral Pernyataan Natalius Pigai, Begal Disebut Tak Boleh Ditembak Mati

Desakan Mundur Semakin Kuat, Termasuk dari Parlemen

Desakan mundur semakin kuat Desakan agar Soeharto mundur semakin menguat setelah situasi ekonomi dan keamanan dalam negeri terus memburuk.

Aksi demonstrasi pecah di berbagai daerah dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Baca Juga: Libur Panjang Idul Adha 2026 Sampai Tanggal Berapa? Ini Jadwal Resminya Menurut SKB 3 Menteri

Tekanan politik pun datang dari berbagai pihak, termasuk dari lingkungan parlemen sendiri.

Pada 19 Mei 1998, Ketua DPR/MPR Harmoko kala itu secara terbuka meminta Soeharto mengundurkan diri demi menjaga persatuan bangsa.

Saat menyampaikan pernyataan pers di Gedung DPR, Harmoko didampingi seluruh wakil ketua DPR/MPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Syarwan Hamid.

Baca Juga: Kabar Gembira, Pemerintah Pastikan Gaji ke 13 ASN dan Pensiunan Tahun 2026 Cair Mulai Bulan Depan

Ia juga menyerukan masyarakat tetap tenang dan menjaga ketertiban agar proses politik berjalan secara konstitusional.

Soeharto kemudian mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden pada 21 Mei 1998, yang disambut suka cita oleh para pendemo di gedung DPR/MPR. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.