Sumsel
HL Sumsel

Waspada Lonjakan Kasus Campak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Septiyanti Dwi Cahyani | 9 Maret 2026, 08:00 WIB
Waspada Lonjakan Kasus Campak, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi ruam merah penyakit campak

AKURAT. CO SUMSEL - Penyakit campak kini kembali menjadi perhatian publik seiring dengan lonjakan kasus yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan lonjakan kasus yang signifikan pada tahun awal 2026.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 63.769 kasus suspek campak dengan 116 kejadian luar biasa (KLB) yang terkonfirmasi laboratorium di 16 provinsi Indonesia.

Baca Juga: Herman Deru Dorong Pelabuhan Tanjung Carat Jadi Pintu Ekspor Utama Sumsel

Sementara itu, hingga Februari 2026, jumlah suspek campak sudah mencapai angka 8.810 dengan 12 KLB yang terkonfirmasi laboratorium di enam provinsi.

Kemenkes pun mengimbau agar masyarakat tidak meremehkan dan menganggap sepele penyakit campak.

Sebab, seseorang yang terkena campak bisa menularkan penyakit ini ke hingga 18 orang.

Baca Juga: Musim Kemarau 2026 di Sumsel Diprediksi Lebih Kering, Risiko Karhutla Meningkat

Apa Itu Campak?

Penyakit campak adalah penyakit infeksi saluran napas yang disebabkan oleh morbillivirus.

Penularan penyakit dampak dari satu pasien ke orang lain dapat terjadi melalui percikan ludah yang keluar saat penderita berbicara, batuk, ataupun bersin.

Virus campak juga bisa menyebar melalui udara (airborne) hingga sentuhan dengan benda terkontaminasi. Tanpa kontak fisik, proses penularan masih bisa terjadi.

Gejala Penyakit Campak

Baca Juga: Jumlah Puskesmas di Sumatera Selatan Capai 466 Unit, Ini Sebarannya di Kabupaten/Kota

Tanda-tanda penyakit campak kerap tidak langsung dikenali karena mirip dengan infeksi pernapasan seperti batuk, pilek, atau demam biasa.

Dengan rata-rata 10 hari masa inkubasi, berikut gejala campak yang sering muncul pada penderita:

  • Demam tinggi yang umumnya hari ke-15 setelah terpapar

Baca Juga: Mengenang Perjalanan Vidi Aldiano Melawan Kanker hingga Meninggal di Usia 35 Tahun

  • Batuk dan pilek

  • Gatal-gatal yang kadang disertai oleh diare

  • Ruam merah makulopapular (muncul hari ke-18) Mata menjadi merah atau konjungtivitis.

Baca Juga: Palembang Sumbang Kasus Perceraian Terbanyak di Sumsel Sepanjang 2025

Risiko dan Komplikasi Penyakit Campak

Kemenkes menyebut, kelompok yang paling rentan dan berisiko terkena Campak adalah anak yang belum atau tidak lengkap Imunisasi Campak-Rubella (MR) dan status gizi yang kurang baik.

Jika dibiarkan, penyakit campak juga bisa berujung pada komplikasi penyakit berat seperti;

Baca Juga: Modus Tanya Orang, Mahasiswi di Palembang Kehilangan iPhone Dijambret Dua Pria Bermotor

  • Sesak napas akibat radang paru (Pneumonia)

  • Kejang akibat radang otak (Ensefalitis)

  • Dehidrasi akibat diare berat

Baca Juga: Salat Idulfitri 1447 H, Jembatan Ampera Ditutup Sementara, Ini Jalur Alternatifnya

  • Kerusakan otak progresif seperti Panansefalitis Sklerosis Subakut, hingga

  • Kematian.

Imbauan kepada Masyarakat

Baca Juga: Sampah di Palembang Terus Naik, Capai 1.300 Ton per Hari

Upaya pencegahan penyakit Campak bisa dimulai dari lingkungan terdekat.

Kemenkes mengklaim masyarakat mempunyai peran besar untuk mencegah penularan campak dengan langkah sebagai berikut:

  • Cek status imunisasi: pastikan anak mendapat imunisasi MR lengkap (usia 9 bulan, 18 bulan, dan Kelas 1 SD)

Baca Juga: Permintaan Meningkat, Harga Bahan Pokok di Sumsel Berpotensi Naik Jelang Lebaran

  • Berpartisipasi aktif jika ada pelaksanaan imunisasi tambahan di wilayahmu Segera ke fasilitas kesehatan (faskes) jika anak demam disertai ruam merah

  • Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): dengan selalu pakai masker saat sakit, terapkan etika batuk, dan rajin cuci tangan pakai sabun.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.