Sumsel

CPO Sumsel Siap Banjiri Pasar Amerika, Infrastruktur Pelabuhan Masih Jadi Ganjalan Utama

Kurnia | 25 Februari 2026, 20:00 WIB

AKURAT.CO SUMSEL Kebijakan tarif resiprokal 0 persen untuk 1.819 produk Indonesia ke pasar Amerika Serikat (AS), termasuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), membawa angin segar bagi industri sawit nasional.

Namun, bagi Sumatera Selatan (Sumsel), peluang emas ini terancam layu sebelum berkembang akibat hambatan klasik: infrastruktur logistik.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Selatan, Alex Sugiarto, mengungkapkan bahwa kebijakan ini merupakan senjata kuat untuk meningkatkan daya saing CPO lokal di pasar nabati global, terutama di tengah ketatnya regulasi deforestasi Uni Eropa (EUDR).

Alex menegaskan bahwa dari sisi hulu, Sumsel tidak memiliki masalah. Kapasitas produksi dan performa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Bumi Sriwijaya dinilai sangat memadai untuk memenuhi lonjakan permintaan dari Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Mangkraknya Proyek Masjid Sriwijaya dan Pasar Cinde, Deretan Kasus yang Menjerat Alex Noerdin

Sayangnya, kesiapan di tingkat produksi tidak dibarengi dengan fasilitas pengiriman yang mumpuni. Hingga kini, Sumsel belum memiliki pelabuhan samudra yang mampu melayani kapal kargo skala besar secara langsung.

"Secara kapasitas PKS di Sumsel sangat memadai, tetapi kendala utama kami adalah distribusi dan transportasi. Kita belum punya pelabuhan samudra," ujar Alex, Selasa (24/2/2026).

Absennya pelabuhan laut dalam memaksa para pengusaha sawit di Sumsel mengirimkan komoditas mereka melalui pelabuhan di provinsi tetangga. Hal ini memicu membengkaknya biaya logistik yang pada akhirnya menggerus margin keuntungan dan melemahkan harga jual di tingkat daerah.

Menurut Alex, tarif 0 persen dari Amerika Serikat hanya akan menjadi angka di atas kertas jika efisiensi pengiriman tidak diperbaiki. Harapan besar kini digantungkan pada realisasi pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat yang diproyeksikan menjadi pelabuhan utama pengganti Pelabuhan Boom Baru.

"Produksi sejauh ini tidak pernah ada kendala. Kami sangat berharap pembangunan Pelabuhan Samudra (Tanjung Carat) segera direalisasikan agar peluang ekspor ini bisa dimanfaatkan secara optimal," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia