Ekspor Sumsel Januari–November 2025 Turun 3,80 Persen, Sektor Pertambangan Tertekan

AKURAT.CO SUMSEL Kinerja ekspor Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) sepanjang Januari hingga November 2025 mengalami penurunan seiring melemahnya ekspor sektor pertambangan, khususnya komoditas batu bara.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan nilai ekspor Sumsel selama periode tersebut tercatat sebesar US$5,8 miliar atau turun 3,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Penurunan ekspor terutama berasal dari sektor pertambangan yang mengalami kontraksi cukup dalam,” ujar Wahyu, Senin (5/1/2026).
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor sektor pertambangan tercatat sebesar US$2,2 miliar atau turun 15,25 persen secara tahunan (year on year/yoy). Penurunan tersebut didominasi oleh komoditas batu bara dan lignit yang nilainya mencapai US$397 juta.
Baca Juga: Libur Nataru Dongkrak Trafik Bandara SMB II, Penumpang Tembus 192 Ribu
Wahyu menjelaskan, melemahnya kinerja ekspor pertambangan dipengaruhi oleh turunnya permintaan pasar global serta tren harga batu bara yang melandai sepanjang 2025.
Meski demikian, sektor lainnya justru menunjukkan kinerja positif. Ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tercatat meningkat 30,65 persen yoy, sementara sektor industri pengolahan tumbuh 7,15 persen yoy.
Selain itu, beberapa komoditas unggulan juga mengalami kenaikan ekspor, seperti karet dan barang dari karet yang tumbuh 13,80 persen yoy serta pulp dari kayu yang meningkat 20,82 persen yoy.
Wahyu menambahkan, meskipun ekspor batu bara menurun, sektor pertambangan masih berkontribusi terhadap perekonomian daerah. Hal tersebut karena sebagian besar produksi batu bara dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Produksi tetap berjalan, tetapi pemanfaatannya lebih banyak untuk pasar domestik, baik di Sumsel maupun daerah lain seperti Lampung dan Jawa,” jelasnya.
Dari sisi tujuan ekspor, China masih menjadi negara tujuan utama ekspor Sumsel dengan nilai US$2,3 miliar selama Januari–November 2025. Selanjutnya diikuti India sebesar US$463 juta dan Vietnam sebesar US$417 juta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









