Profil Motjaba Khamenei, Putra Ayatollah Ali yang Disebut Jadi Kandidat Kuat Pemimpin Tertinggi Iran

AKURAT. CO SUMSEL - Iran harus kehilangan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei imbas serangan militer Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Kini, nama Motjaba Khamenei (47) yang merupakan putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei disebut-sebut menjadi kandidat terkuat calon pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Hal ini terungkap usai para tokoh agama dan ulama yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi Iran menggelar musyawarah pada Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: Libur Sekolah Lebaran 2026 Mulai 16 Maret, Siswa Bisa Nikmati Libur hingga 16 Hari
Dalam pertemuan tersebut, nama Motjaba Khamenei muncul sebagai kandidat terkuat sebagai calon pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya.
Namun, hingga berita ini dibuat, belum ada pengumuman resmi terkait siapa sosok pemimpin Iran yang baru.
Profil Motjaba Khamenei
Baca Juga: Bansos Maret 2026 Cair Jelang Lebaran, Ini Daftar Lengkap dan Cara Cek Penerimanya
Motjaba Khamenei lahir di Mashhad, Iran pada 8 September 1969.
Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki pengaruh kuat dalam tradisi Syiah Dua Belas Imam.
Motjaba Khamenei juga tumbuh dalam lingkungan politik dan keagamaan yang sangat ketat.
Baca Juga: Kongres AS Gagal Hentikan Serangan ke Iran, Trump Tetap Dibatasi 60 Hari
Pendidikan dan Karier
Motjaba menamatkan pendidikan menengahnya pada 1987, ia lalu bergabung dengan IRGC dan mulai bertugas pada akhir perang Iran-Irak.
Pengalaman inilah yang akhirnya membentuk kedekatannya dengan militer dan keamanan.
Baca Juga: Jadwal Bioskop Palembang Sabtu 7 Maret 2026: Ada Film tentang Palestina
Setelah itu, Motjaba melanjutkan pendidikan agama di Qom di bawah bimbingan ulama konservatif terkemuka.
Pada akhir 1990-an, Motjaba memulai kariernya sebagai pengajar di seminari dan memperluas pengaruhnya di kalangan ulama.
Sosok Kuat di Balik Pemerintahan Iran
Baca Juga: Jadwal Operasi Pasar Murah Provinsi Sumatera Selatan Maret 2026
Motjaba dikenal sebagai sosok yang memiliki peran penting di balik layar pemerintahan Iran.
Sejak muda, Motjaba telah disiapkan untuk memahami dunia politik, militer, dan keagamaan yang menjadi fondasi utama Republik Islam Iran.
Bertahun-tahun ia bekerja dari Kantor Pemimpin Tertinggi sebagai penjaga akses dan perantara kekuasaan di lingkaran ayahnya.
Baca Juga: Polri Buka Layanan Penitipan Kendaraan Bermotor Saat Mudik Lebaran 2026
Perannya kerap disandingkan dengan Ahmad Khomeini, putra pendiri Republik Islam Ruhollah Khomeini, yang menjadi ajudan sekaligus orang kepercayaan utama pada masa awal negara tersebut.
Di sisi lain, Motjaba juga kerap dianggap sebagai musuh gerakan demokrasi, terutama sejak 2009 ketika disebut membantu mengatur penindasan, serta dinilai sebagai favorit di kalangan elite tertentu.
Termasuk kelompok yang dekat dengan Mohammad-Bagher Ghalibaf yang memiliki ambisi menjadi figur kuat di Iran.
Baca Juga: Stok Beras Palembang Melimpah 27 Ribu Ton, Pemkot Jamin Aman Hingga Lebaran 2026
Berhubungan Dekat dengan Lembaga Keamana Iran
Salah satu sumber utama kekuatan Mojtaba disebut berasal dari kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pada era Perang Iran–Irak 1980-an, ia pernah bertugas di Batalyon Habib, unit yang mayoritas beranggotakan sukarelawan dari jaringan revolusioner Republik Islam yang tengah berkembang.
Baca Juga: Kasus Scam di Sumsel Tembus 10 Ribu Laporan, Kerugian Palembang Capai Rp80,5 Miliar
Batalyon itu berada di bawah formasi yang berafiliasi dengan IRGC dan terlibat dalam sejumlah pertempuran besar selama perang.
Relasi yang terbangun sejak masa perang itu diyakini memperkuat jejaring Mojtaba di institusi keamanan Iran yang berpengaruh. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






