Ancaman Hantavirus Jadi Sorotan, Ahli Veteriner Sumsel Ingatkan Bahaya Sanitasi Buruk

AKURAT.CO SUMSEL Ancaman penyebaran Hantavirus mulai menjadi perhatian serius di Sumatera Selatan (Sumsel).
Penyakit yang ditularkan melalui tikus atau rodensia ini dinilai berkaitan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk dan lemahnya pengendalian kebersihan kawasan permukiman.
Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi Sumsel, drh. Jafrizal MM, mengatakan Hantavirus tidak hanya dipandang sebagai persoalan kesehatan manusia, tetapi juga menyangkut keseimbangan lingkungan dan pengendalian populasi hewan pembawa penyakit.
“Hantavirus merupakan bagian dari persoalan ekosistem yang harus ditangani bersama melalui pendekatan One Health,” ujar Jafrizal, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, tikus berkembang pesat di lingkungan yang kotor, seperti kawasan dengan tumpukan sampah, saluran air tidak terawat, hingga tempat penyimpanan pangan terbuka.
Kondisi tersebut menjadi faktor utama meningkatnya risiko penularan penyakit zoonosis kepada manusia.
“Hewan pengerat sebenarnya menjadi indikator bahwa tata kelola lingkungan belum berjalan optimal,” katanya.
Hantavirus sendiri dapat menular melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang mengering lalu terhirup manusia. Dalam kondisi tertentu, infeksi ini dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga berujung kematian.
Baca Juga: Diduga Bawa Kabur Uang Rp10 Juta, ART di Palembang Dilaporkan ke Polisi
Selain Hantavirus, rodensia juga diketahui berpotensi menyebarkan penyakit lain seperti leptospirosis dan salmonellosis.
Jafrizal menilai penanganan penyakit zoonosis tidak dapat dilakukan secara sektoral. Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan lintas instansi mulai dari sektor kesehatan, veteriner, lingkungan hidup, hingga pemerintah daerah.
Dinas Kesehatan, kata dia, berperan dalam pengawasan penyakit, deteksi dini kasus, edukasi masyarakat, hingga penanganan pasien.
Sementara sektor veteriner memiliki peran dalam pengawasan penyakit yang berasal dari hewan, pengendalian faktor risiko, serta edukasi kesehatan lingkungan.
“Pendekatan One Health menjadi penting karena kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengendalian populasi tikus secara berkelanjutan melalui perbaikan sanitasi lingkungan, pengelolaan limbah, penutupan akses sarang tikus, dan pengamanan tempat penyimpanan makanan.
Selain itu, masyarakat diminta lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dengan tidak membiarkan sampah menumpuk maupun menyimpan makanan secara terbuka.
Menurut Jafrizal, pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menghindari munculnya wabah penyakit zoonosis di tengah masyarakat.
“Wabah tidak muncul tiba-tiba. Biasanya ada persoalan lingkungan yang dibiarkan terlalu lama,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bansos PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Aturan Jadwal, Besaran Nominal hingga Cara Cek Penerima
- 2Jadwal Timnas Indonesia Vs Vietnam, Laga Penentu Tiket Semifinal Piala AFF U 19 2026
- 3Harga Karet Sumsel Tembus Rp41 Ribu per Kg, Petani Nikmati Kenaikan Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
- 4Kapan PIP Kemendikdasmen Juni 2026 Cair? Pantau Jadwal Penyaluran Termin 2 di Sini
- 5Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia 2026 dengan Jam Tayang WIB
- 6Daftar Harga BBM Terbaru di Sumsel, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Lagi
- 7Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
- 85 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo di Bundaran HI Jakarta Hari Ini
- 9Vivo S60 Series Resmi Meluncur, Usung Baterai 7.200mAh dan Layar 144Hz
- 10Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem








