Palembang Sumbang 800 Kasus, Campak Kembali Merebak di Sumsel

AKURAT.CO SUMSEL Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami lonjakan signifikan kasus campak sepanjang tahun 2026.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat total 1.580 kasus, dengan Kota Palembang menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi.
Dari total tersebut, Palembang menyumbang sekitar 800 kasus, di mana 400 di antaranya telah terkonfirmasi positif. Sementara itu, sejumlah daerah lain seperti Musi Rawas dan Prabumulih juga mulai melaporkan temuan kasus, meski jumlahnya masih di bawah 50 kasus.
Kepala Dinkes Sumsel, Trisnawarman, mengatakan peningkatan kasus ini merupakan dampak dari rendahnya cakupan imunisasi pada masa pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
Saat itu, banyak orang tua menunda membawa anak ke fasilitas kesehatan karena kekhawatiran terhadap penularan virus.
“Capaian imunisasi campak saat pandemi hanya berkisar 70 hingga 80 persen, padahal targetnya 95 sampai 100 persen. Hal ini menyebabkan terbentuknya celah kekebalan di masyarakat,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, dampak penurunan imunisasi tersebut baru terasa dalam siklus beberapa tahun kemudian. Pada 2026, kondisi itu memicu meningkatnya jumlah anak yang rentan terhadap penularan campak.
Baca Juga: Pajak Pedagang Online Segera Berlaku? Pemerintah Tunggu Momen Tepat Terapkan Skema Baru
Trisnawarman juga mengingatkan bahwa campak tidak hanya berisiko pada anak-anak, tetapi juga kelompok rentan lain seperti bayi, ibu hamil, dan lansia yang belum memiliki kekebalan.
“Penularan campak sangat mudah melalui droplet, dan pada kelompok tertentu bisa menimbulkan komplikasi serius,” katanya.
Untuk menekan penyebaran, Dinkes Sumsel saat ini menggencarkan program imunisasi kejar serta pemberian dosis lanjutan (booster).
Langkah ini diharapkan mampu menutup celah kekebalan dan memutus rantai penularan di berbagai wilayah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









