Sumsel

Kasus Campak Tembus 1.000 Suspek di Sumsel Awal 2026, Imunisasi Anak Digenjot

Kurnia | 14 Maret 2026, 19:00 WIB
Kasus Campak Tembus 1.000 Suspek di Sumsel Awal 2026, Imunisasi Anak Digenjot

AKURAT.CO SUMSEL Kasus penyakit Campak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir.

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel menunjukkan lonjakan kasus suspek maupun kasus yang telah terkonfirmasi positif, terutama pada awal 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan tren kenaikan kasus campak mulai terlihat sejak tahun 2025 dan semakin meningkat pada tahun ini.

“Terjadi peningkatan kasus suspek dan konfirmasi yang cukup signifikan pada tahun 2026. Salah satu faktor risikonya adalah rendahnya status imunisasi pada sebagian kasus,” ujar Ira, Sabtu (14/3/2026).

Berdasarkan data Dinkes Sumsel, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 744 kasus suspek campak dengan 68 kasus yang terkonfirmasi positif.

Sementara hingga minggu ke-9 tahun 2026, jumlahnya melonjak menjadi 1.082 kasus suspek dengan 184 kasus yang dipastikan positif campak.

Lonjakan paling tinggi terjadi pada awal tahun 2026. Pada Januari saja tercatat 381 kasus suspek dengan 151 kasus positif. Angka tersebut kembali meningkat pada Februari menjadi 525 kasus suspek.

Memasuki Maret 2026, jumlah kasus mulai menurun menjadi 176 suspek dengan 33 kasus positif.

Baca Juga: Kasus Campak Melonjak, Dinkes Palembang Gencarkan Vaksinasi Tambahan Jelang Lebaran

Menurut Ira, salah satu penyebab meningkatnya kasus campak adalah rendahnya cakupan imunisasi pada anak.

Dari hasil pemantauan, sekitar 23 persen penderita baru menerima satu dosis imunisasi, sementara 19 persen lainnya telah menerima dua dosis atau lebih.

Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap sehingga lebih rentan terpapar virus campak.

Sebagai langkah penanganan, pemerintah melalui Dinkes Sumsel melaksanakan program Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi tanggap wabah.

Program tersebut saat ini difokuskan di empat daerah dengan risiko penularan tinggi, yaitu Palembang, Prabumulih, Kabupaten Banyuasin, serta Kabupaten Musi Rawas Utara.

Imunisasi tersebut telah mulai dilaksanakan sejak 10 Maret 2026 melalui posyandu dan berbagai fasilitas layanan kesehatan.

Sementara di 13 kabupaten/kota lainnya, program imunisasi tetap dilakukan dengan prioritas pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi atau belum lengkap.

Kepala Dinkes Sumsel Trisnawarman mengatakan peningkatan kasus campak tidak hanya terjadi di Sumsel, tetapi juga di berbagai wilayah di Indonesia.

“Karena itu kami kembali menggiatkan program imunisasi sebagai respons terhadap meningkatnya kasus campak,” ujarnya.

Dinkes Sumsel juga mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak.

Gejala penyakit ini biasanya diawali dengan demam tinggi selama beberapa hari yang kemudian disertai munculnya bintik-bintik merah di kulit.

“Ciri khasnya demam naik turun lalu muncul ruam atau bintik merah di tubuh. Sekilas bisa mirip demam berdarah, tetapi ini mengarah ke campak,” jelas Trisnawarman.

Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat mudah menular melalui percikan batuk atau bersin penderita. Oleh karena itu, imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Baca Juga: Waspada Tren Kasus Campak di Sumsel, Orang Tua Diminta Segera Lengkapi Vaksinasi Anak

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia