Musim Kemarau 2026 di Sumsel Diprediksi Lebih Kering, Risiko Karhutla Meningkat

AKURAT.CO SUMSEL Badan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Sumatera Selatan akan mengalami musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya. Selain datang lebih cepat, kondisi kemarau juga diperkirakan lebih kering.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, menjelaskan prediksi tersebut berdasarkan rilis prakiraan musim kemarau 2026 yang dikeluarkan BMKG.
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini adalah berakhirnya fenomena La Niña lemah yang sebelumnya memengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia.
La Niña lemah merupakan kondisi anomali iklim yang ditandai dengan penurunan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, namun intensitasnya tidak terlalu kuat. Meski begitu, dampaknya tetap memengaruhi pola hujan di sejumlah wilayah.
Menurut Nandang, awal musim kemarau di Sumatera Selatan tidak terjadi secara bersamaan karena wilayah ini terbagi dalam beberapa zona musim. Setiap zona memiliki waktu peralihan musim yang berbeda.
Baca Juga: Kenapa Palembang Terasa Sangat Terik? Ini Penjelasan BMKG Soal Puncak Panas Maret 2026
Untuk wilayah Sumsel bagian utara seperti Musi Banyuasin, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara serta sebagian wilayah Banyuasin, musim kemarau diperkirakan maju dua dasarian atau sekitar 20 hari lebih cepat. Periode tersebut diprediksi berlangsung mulai Mei dasarian II hingga Juni dasarian I.
Sementara itu, sejumlah daerah lain seperti Palembang, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Prabumulih, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Selatan, Penukal Abab Lematang Ilir, Lahat, serta Empat Lawang diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat satu dasarian, yakni sekitar Mei dasarian III hingga Juni dasarian II.
Selain datang lebih awal, BMKG juga memprediksi sifat hujan di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan selama musim kemarau berada pada kategori bawah normal. Artinya, jumlah curah hujan diperkirakan lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko munculnya titik panas atau hotspot yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
Selain itu, masyarakat juga diminta bijak menggunakan air bersih serta mewaspadai peningkatan debu yang dapat memicu gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 75 Ramalan Zodiak Hari Ini 17 Oktober 2026, Bagaimana Nasib Asmara dan Keuangan?
- 8Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu







