Cakupan Imunisasi Balita di Sumsel 2025 Turun, Campak-Rubella Anjlok Paling Tajam

AKURAT.CO SUMSEL Cakupan imunisasi balita di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2025 mengalami penurunan hampir di seluruh jenis imunisasi dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Berdasarkan data terbaru, imunisasi Hepatitis B mengalami penurunan cukup signifikan dari 89,35 persen pada 2024 menjadi 80,11 persen di 2025. Penurunan ini mengindikasikan berkurangnya cakupan imunisasi pada masa neonatal yang sangat bergantung pada layanan persalinan serta ketepatan waktu kunjungan bayi baru lahir ke fasilitas kesehatan.
Penurunan juga tercatat pada imunisasi BCG, dari 92,58 persen menjadi 86,13 persen. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh hambatan akses awal bayi ke fasilitas kesehatan serta keterbatasan stok vaksin di sejumlah wilayah.
Sementara itu, cakupan imunisasi Polio menurun dari 91,62 persen menjadi 85,45 persen, dan imunisasi DPT juga mengalami penurunan dari 88,52 persen menjadi 82,52 persen. Hal ini mencerminkan melemahnya kunjungan balita untuk melanjutkan imunisasi rutin sesuai jadwal.
Penurunan paling drastis terjadi pada imunisasi Campak-Rubella (MR). Pada 2024, cakupan imunisasi MR masih berada di angka 75,71 persen, namun merosot tajam menjadi hanya 60,72 persen pada tahun 2025.
Baca Juga: Daftar 26 Kosmestik Berbahaya Temuan BPOM Beserta Kandungannya dan Dampak untuk Kesehatan
Rendahnya capaian ini diduga dipengaruhi oleh terbatasnya stok vaksin MR secara nasional, tidak adanya kampanye imunisasi massal, serta masih beredarnya misinformasi terkait vaksin campak yang memengaruhi kesediaan orang tua membawa anaknya ke fasilitas kesehatan.
Di sisi lain, vaksin IPV (Inactivated Polio Vaccine) baru mulai dilaporkan pada 2025 dengan cakupan sebesar 59,33 persen. Angka tersebut dinilai masih wajar mengingat IPV merupakan vaksin yang relatif baru diterapkan dan membutuhkan waktu untuk sosialisasi serta stabilisasi distribusi.
Secara keseluruhan, tren penurunan cakupan imunisasi balita di Sumatera Selatan menunjukkan perlunya penguatan program imunisasi rutin. Upaya tersebut meliputi perbaikan manajemen rantai pasok dan ketersediaan vaksin, peningkatan intensitas kegiatan posyandu, serta penguatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk terkait vaksin baru.
Selain itu, langkah jemput bola dan sweeping terhadap balita yang belum melengkapi imunisasi dinilai sangat penting untuk mencegah penurunan berlanjut dan menekan risiko munculnya kembali penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Daftar Tuntutan Demo Mahasiswa di Jakarta Hari Ini: Harga BBM, MBG dan KDMP Jadi Sorotan Utama
- 45 Ramalan Zodiak Hari Ini, Selasa 18 Agustus 2026: Ada yang Berpeluang Dapat Rezeki dan Kabar Baik
- 5Cara Mencairkan Bansos PKH dan BPNT Agustus 2026 Lewat Bank dan Kantor Pos
- 6Bianca Alessia Christabella Lantang, Putri Sulawesi Utara yang Dipercaya Membawa Baki Bendera Pusaka
- 7Update Terbaru Harga Emas Perhiasan Palembang, Naik atau Turun?
- 8Apakah Hari Ini 18 Agustus 2026 Libur? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun








