Cerita Rakyat Sumatera Selatan: Legenda Sang Pahit Lidah, Kesaktian yang Diberikan Sang Hyang Mahameru

AKURAT.CO SUMSEL Legenda Pahit Lidah sangat terkenal di kalangan masyarakat Sumatera Selatan.
Kesaktian yang dimiliki Pahit Lidah yang membuatnya yang membuat masayrakat Sumatera Selatan hingga provinsi luar kagum yaitu kesaktiannya yang dapat membuat setiap perkataanya menjadi sebuah kenyataan.
Baca Juga: Kisah Sedih! 31 Tahun Penantian Sia-sia, Sang Ibu Bertemu Putrinya Sudah Meninggal Dunia
Penasaran bagaimana kisah legenda Pahit Lidah? Simak artikel ini sampai selesai.
Kisah Legenda Pahit Lidah
Dahulu kala, di Sumidang, hiduplah seorang pangeran bernama Serunting. Ia menikahi seorang wanita bernama Siti, yang bukan berasal dari kalangan bangsawan. Setelah menikah, Siti tinggal di istana bersama suaminya, meskipun sering terlihat murung. Suatu hari, Serunting bertanya, "Adinda, mengapa akhir-akhir ini engkau tampak murung? Apa yang mengganjal di hatimu?"
Siti menjawab, "Aku memikirkan nasib adikku, Aria Tebing, yang tinggal sendirian setelah kepergian ayah dan ibu."
"Oh, ternyata itu yang membuatmu murung. Bagaimana jika kita ajak Aria Tebing tinggal di istana bersama kita?" usul Serunting.
Siti senang mendengar tawaran itu dan segera mereka pergi mengunjungi Aria Tebing di desa. Namun, Aria Tebing menolak tawaran tersebut. "Maaf, Kak. Aku menghargai tawaran kalian, tapi aku lebih suka tinggal di sini dan mengurus lahan peninggalan orang tua kita," jawabnya.
Baca Juga: Mengulik Misteri Gunung Dempo Pagar Alam: Legenda Manusia Harimau dan Keindahan Alam yang Mempesona
Meskipun heran dengan keputusan adiknya, Serunting dan Siti menghormatinya. Mereka memutuskan untuk membantu dengan menanam batang pohon sebagai pembatas lahan. Suatu hari, ajaibnya, di batang pohon pembatas itu tumbuh jamur emas hanya di bagian yang menghadap lahan Aria Tebing. Sementara itu, di sisi lahan milik Siti dan Serunting, hanya tumbuh jamur biasa.
Aria Tebing sangat bahagia memetik jamur emas tersebut setiap hari. Emas yang dihasilkan membuat kehidupannya semakin membaik. Melihat kemakmuran Aria Tebing, Serunting merasa curiga. Suatu hari, ia mengikuti Aria Tebing ke kebun dan menuduhnya telah memindahkan batang pohon pembatas.
"Hei, Aria Tebing! Kau telah menipu! Kau memindahkan batang pohon ini agar jamur emas tumbuh di lahanmu!" tuduh Serunting.
"Apa maksud kakanda? Aku tidak pernah memindahkan batang pohon itu. Jika kakanda menginginkan jamur emas ini, aku bisa memberikannya," jawab Aria Tebing.
Namun, Serunting tidak puas dan menantang Aria Tebing untuk bertarung memperebutkan jamur emas tersebut. Aria Tebing, yang tahu ia akan kalah, meminta waktu dua hari untuk memikirkan tantangan itu.
Aria Tebing kemudian pergi mengendap-endap ke rumah Siti dan menceritakan semuanya. Siti, yang bimbang antara membantu adiknya dan tidak ingin mengkhianati suaminya, akhirnya memberitahu kelemahan Serunting dengan syarat Aria Tebing tidak akan membunuhnya.
Hari pertarungan tiba. Pertarungan tidak seimbang karena Serunting terlalu kuat. Aria Tebing memanfaatkan kesempatan dan menyerang kelemahan Serunting dengan ilalang, yang segera membuat Serunting lemah. "Dari mana engkau tahu kelemahanku?" tanya Serunting.
"Aku tahu dari Kak Siti," jawab Aria Tebing.
Merasa dikhianati, Serunting meninggalkan kampung halaman dan istananya untuk bertapa di Gunung Siguntang. Di sana, ia mendapat petunjuk dari Sang Hyang Mahameru. "Wahai anak muda, maukah kau mendapatkan kesaktian?" tanya Sang Hyang.
"Tentu saja aku mau," jawab Serunting.
"Kau harus bertapa di bawah pohon bambu hingga daun-daunnya menyelimuti tubuhmu," kata Sang Hyang.
Serunting bertapa selama dua tahun hingga daun bambu menutupi seluruh tubuhnya. Akhirnya, Sang Hyang Mahameru memberinya kesaktian. "Mulai sekarang, setiap kata yang kau ucapkan akan menjadi kutukan," kata Sang Hyang.
Serunting segera mencoba kesaktiannya. Ia mengutuk tanaman tebu menjadi batu, dan ternyata kutukannya berhasil. Dalam perjalanan pulangnya, ia mengubah hamparan padi menjadi emas, tanah gersang menjadi subur, dan sungai kering kembali mengalir. Ia juga membantu pasangan tua yang tidak memiliki anak dengan mengubah sehelai rambut menjadi bayi.
Karena kesaktiannya, Serunting dikenal sebagai Si Pahit Lidah. Sepulangnya ke kampung halaman, ia meminta maaf kepada Siti dan Aria Tebing atas kesalahannya dulu.
Mereka bertiga hidup bersama dengan rukun, tanpa ada lagi pertengkaran di antara mereka.
Kisah Si Pahit Lidah menjadi legenda tentang bagaimana kesaktian dan kebijaksanaan harus digunakan untuk kebaikan. (Dandy Dwi Putra Handho)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





