Sumsel
HL Sumsel

Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Ancaman Kenaikan Harga Barang Mulai Menghantui

Kurnia | 2 Juni 2026, 12:00 WIB
Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Ancaman Kenaikan Harga Barang Mulai Menghantui
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Selasa (2/6/2026), mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.885 per dolar AS, mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal yang membayangi pasar keuangan global.

Pelemahan rupiah kali ini tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar, tetapi juga berpotensi berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Sebab, ketika dolar AS menguat dan rupiah melemah, biaya impor berbagai kebutuhan strategis ikut meningkat, mulai dari energi hingga bahan baku industri.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.

Meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta kekhawatiran meluasnya konflik ke kawasan lain membuat investor global memilih memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Baca Juga: Hilang Tiga Tahun, Pria Asal Cianjur Ditemukan Lemas di Lereng Gunung Salak

"Ketidakpastian global kembali meningkat sehingga permintaan terhadap dolar AS naik. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan," ujarnya.

Selain faktor geopolitik, pasar juga tengah mencermati kebijakan perdagangan terbaru Presiden AS Donald Trump yang mengubah skema tarif impor untuk sejumlah komoditas industri seperti baja, aluminium, dan tembaga.

Langkah tersebut dinilai menambah ketidakpastian terhadap prospek perdagangan global.

Indonesia Hadapi Tekanan Ganda

Bagi Indonesia, pelemahan rupiah memiliki konsekuensi yang lebih besar karena tingginya ketergantungan terhadap impor energi.

Konsumsi minyak nasional saat ini masih jauh melampaui kapasitas produksi dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia masih harus mengimpor minyak dalam jumlah besar setiap hari.

Kondisi ini membuat kebutuhan dolar AS meningkat ketika nilai tukar rupiah melemah. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia dapat memperbesar beban impor yang harus ditanggung.

Situasi tersebut menciptakan tekanan ganda bagi perekonomian nasional, terutama dalam menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan stabilitas harga di dalam negeri.

Harga Pangan hingga Industri Berisiko Naik

Dampak pelemahan rupiah tidak berhenti pada sektor energi. Sejumlah komoditas yang bergantung pada bahan baku impor juga berpotensi mengalami kenaikan biaya produksi.

Produk seperti kedelai, jagung, pupuk, hingga bahan baku manufaktur menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Jika pelemahan rupiah berlangsung dalam periode yang cukup panjang, kenaikan biaya impor dapat diteruskan ke harga jual di tingkat konsumen.

Artinya, masyarakat berpotensi menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari produk pangan hingga barang konsumsi lainnya.

Ekonom menilai kondisi ini perlu diwaspadai karena daya beli masyarakat saat ini masih dalam tahap pemulihan.

Tekanan harga yang meningkat dapat memperlambat laju konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Pelemahan nilai tukar juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter.

Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan memicu kenaikan inflasi akibat mahalnya barang impor, ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga akan semakin terbatas.

Di sisi lain, pemerintah terus berupaya memperkuat pasokan devisa melalui optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) guna menjaga stabilitas pasar valas domestik.

Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik geopolitik global dan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa waktu ke depan.

Selama ketidakpastian global masih tinggi dan dolar AS tetap perkasa, rupiah diperkirakan akan menghadapi tantangan berat untuk kembali menguat secara signifikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia