OKU Alami Banjir Terparah dalam 42 Tahun Terakhir, Pj Bupati OKU: Salah Satu Penyebabnya Deforestasi

AKURAT.CO SUMSEL Banjir parah yang melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tiga kali dalam setahun telah menarik perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah.
Banjir yang dinilai sebagai yang terbesar dalam 42 tahun terakhir ini memaksa pemerintah untuk mencari solusi jangka panjang.
Pj Bupati OKU, Teddy Meilwansyah mengatakan bahwa pihaknya sudah Lima hari yang lalu, Pemkab OKU telah mempresentasikan masalah banjir ini di hadapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meminta bantuan dalam memetakan dan mengkaji penyebab banjir di OKU.
"Tim BRIN sudah turun ke OKU untuk melakuakn pemetaan secara langsung dan melihat kondisi secara langusng, dari sinilah akhirnya akan dilakukan kajian secara langsung, sehingga hasil kajian ini dapat menjadi acuan yang akan menentukan langkah-langkah mitigasi," katanya, Rabu (19/6/2024).
Dari hasil pengamatan fisik awal menunjukkan adanya masalah serius di bagian hulu berupa penggundulan hutan atau deforestasi yang cukup ekstrem.
Baca Juga: Ucok Resmi Dilantik Sebagai Pj Wali Kota Palembang, Akan Optimalkan Program yang Sudah Ada
"Deforestasi ini disebabkan oleh berbagai faktor, dan kami berencana untuk mengkaji serta mendalami penyebab pastinya," jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa intensitas banjir tahun ini sangat tinggi, dengan tiga kali kejadian dalam setahun, yang menunjukkan adanya kesalahan mendasar yang perlu diatasi.
"Oleh karena itu, kami meminta bantuan dari BRIN dan BNPB untuk mengambil langkah-langkah efektif dalam menyelesaikan masalah banjir di OKU," jelasnya.
Deforestasi yang diakibatkan oleh aktivitas pertambangan masif di kawasan tersebut masih menjadi tanda tanya besar. Teddy memilih untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai hal ini.
"Bisa iya bisa tidak," ujarnya singkat.
Pemkab OKU kini fokus pada penanganan banjir secara jangka pendek dan menengah. Upaya pencegahan dilakukan dengan mengimbau masyarakat di kawasan hulu untuk tidak melakukan penebangan hutan, salah satu penyebab utama banjir.
Selain itu, pemerintah daerah berencana membangun kolam retensi dan melakukan normalisasi sungai sebagai langkah mitigasi.
"Kami berharap, dengan adanya kolam retensi dan normalisasi sungai, dampak banjir bisa dikurangi, terutama saat curah hujan tinggi," tutupnya. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









