Sumsel

Jejak Sejarah Masjid Muara Ogan, Masjid Tertua di Sumsel yang Nyaris Tergusur Stasiun Kereta Api

St Shofia Munawaroh | 7 Maret 2025, 07:00 WIB
Jejak Sejarah Masjid Muara Ogan, Masjid Tertua di Sumsel yang Nyaris Tergusur Stasiun Kereta Api

AKURAT.CO SUMSEL - Masjid Muara Ogan Kertapi merupakan salah satu masjid tertua di Sumatera Selatan.

Masjid yang dibangun pada 1889 ini berlokasi di Kampung Kertapati, Kodya Palembang.

Sekitar 3 kilometer dari pusat kota Palembang.

Baca Juga: Sumsel Siap Hadapi Lonjakan Pemudik Lebaran 2025, Diskon Tarif Angkutan hingga Antisipasi Kemacetan

Masjid berukuran 20 x 20 meter ini menyimpan jejak sejarah Islam yang kental di Bumi Sriwijaya.

Pendirinya adalah seorang ulama bangsawan yang bernama H. Abdul Hamid bin Masagung Mahmud dan biasa dipanggil Kiai Muara Ogan oleh penduduk setempat.

Selain sebagai pusat kegiatan kaum muslimin, Masjid Muara Ogan juga menjadi pusat penyebaran agama Islam pada saat itu.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Kota Palembang Jumat 7 Ramadhan 2025 Berdasarkan Ketetapan Kemenag

Sebelum mendirikan masjid, Kiai Muara Ogan mendirikan bengkel terlebih dahulu. Hasilnya beliau gunakan untuk menopang hidup keluarganya dan membiayai santri-santrinya.

Dari tahun ke tahun, santri Kiai Muara Ogan semakin banyak.

Rumah Kiai sudah tak mampu menampung para santri hingga akhirnya ia membangun masjid dengan bantuan seluruh masyarakat dan para santrinya.

Baca Juga: Pemprov Sumsel Siap Backup Anggaran Rp 36 Miliar untuk Pemilihan Suara Ulang di Empat Lawang

Masjid Muara Ogan tercatat beberapa kali nyaris mengalami penggusuran.

Pada 1911, perusahaan kereta api ZSS (Zuit Spoor Sumatra) milik Pemerintah Hindia Belanda melakukan perluasan stasiun kereta api.

Baca Juga: Libur Sekolah Idul Fitri Dimajukan, Siswa Resmi Libur Mulai 21 Maret Sesuai Surat Edaran

Akibatnya, tanah yang berada di sekitar Masjid Muara Ogan diambil (dikeruk), sehingga bengkel penggergajian kayu yang terletak ditanah itu dipindahkan ke Kampung Karang Anyar Palembang.

Sedangkan, bengkel yang di Ulak Gedong dipindahkan ke Kampung Ulu Tuan Kentang.

Baca Juga: Krisis Infrastruktur Sekolah di Palembang, 35 Persen Bangunan Tak Layak, Apa Respon Pemkot?

Karena pengerukan itu, tanah yang berada cL samping Masjid Muara Ogan hanya tinggal beberapa meter.

Selebihnya dikuasai PJKA sebagai pelanjut ZSS. Hingga kini, masjid tertua peninggalan Ki Muara Ogan ini masih ramai dikunjungi. Terutama di bulan suci Ramadhan seperti ini.

Banyak pengunjung datang untuk berwisata religi ataupun sekedar mengunjungi makam Kiai Muara Ogan yang dimakamkan di sebelah masjid.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.