Jejak Sejarah Masjid Muara Ogan, Masjid Tertua di Sumsel yang Nyaris Tergusur Stasiun Kereta Api

AKURAT.CO SUMSEL - Masjid Muara Ogan Kertapi merupakan salah satu masjid tertua di Sumatera Selatan.
Masjid yang dibangun pada 1889 ini berlokasi di Kampung Kertapati, Kodya Palembang.
Sekitar 3 kilometer dari pusat kota Palembang.
Baca Juga: Sumsel Siap Hadapi Lonjakan Pemudik Lebaran 2025, Diskon Tarif Angkutan hingga Antisipasi Kemacetan
Masjid berukuran 20 x 20 meter ini menyimpan jejak sejarah Islam yang kental di Bumi Sriwijaya.
Pendirinya adalah seorang ulama bangsawan yang bernama H. Abdul Hamid bin Masagung Mahmud dan biasa dipanggil Kiai Muara Ogan oleh penduduk setempat.
Selain sebagai pusat kegiatan kaum muslimin, Masjid Muara Ogan juga menjadi pusat penyebaran agama Islam pada saat itu.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Kota Palembang Jumat 7 Ramadhan 2025 Berdasarkan Ketetapan Kemenag
Sebelum mendirikan masjid, Kiai Muara Ogan mendirikan bengkel terlebih dahulu. Hasilnya beliau gunakan untuk menopang hidup keluarganya dan membiayai santri-santrinya.
Dari tahun ke tahun, santri Kiai Muara Ogan semakin banyak.
Rumah Kiai sudah tak mampu menampung para santri hingga akhirnya ia membangun masjid dengan bantuan seluruh masyarakat dan para santrinya.
Baca Juga: Pemprov Sumsel Siap Backup Anggaran Rp 36 Miliar untuk Pemilihan Suara Ulang di Empat Lawang
Masjid Muara Ogan tercatat beberapa kali nyaris mengalami penggusuran.
Pada 1911, perusahaan kereta api ZSS (Zuit Spoor Sumatra) milik Pemerintah Hindia Belanda melakukan perluasan stasiun kereta api.
Baca Juga: Libur Sekolah Idul Fitri Dimajukan, Siswa Resmi Libur Mulai 21 Maret Sesuai Surat Edaran
Akibatnya, tanah yang berada di sekitar Masjid Muara Ogan diambil (dikeruk), sehingga bengkel penggergajian kayu yang terletak ditanah itu dipindahkan ke Kampung Karang Anyar Palembang.
Sedangkan, bengkel yang di Ulak Gedong dipindahkan ke Kampung Ulu Tuan Kentang.
Baca Juga: Krisis Infrastruktur Sekolah di Palembang, 35 Persen Bangunan Tak Layak, Apa Respon Pemkot?
Karena pengerukan itu, tanah yang berada cL samping Masjid Muara Ogan hanya tinggal beberapa meter.
Selebihnya dikuasai PJKA sebagai pelanjut ZSS. Hingga kini, masjid tertua peninggalan Ki Muara Ogan ini masih ramai dikunjungi. Terutama di bulan suci Ramadhan seperti ini.
Banyak pengunjung datang untuk berwisata religi ataupun sekedar mengunjungi makam Kiai Muara Ogan yang dimakamkan di sebelah masjid.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Bansos PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Aturan Jadwal, Besaran Nominal hingga Cara Cek Penerima
- 2Jadwal Timnas Indonesia Vs Vietnam, Laga Penentu Tiket Semifinal Piala AFF U 19 2026
- 3Harga Karet Sumsel Tembus Rp41 Ribu per Kg, Petani Nikmati Kenaikan Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
- 4Kapan PIP Kemendikdasmen Juni 2026 Cair? Pantau Jadwal Penyaluran Termin 2 di Sini
- 5Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia 2026 dengan Jam Tayang WIB
- 6Daftar Harga BBM Terbaru di Sumsel, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Lagi
- 7Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
- 85 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo di Bundaran HI Jakarta Hari Ini
- 9Vivo S60 Series Resmi Meluncur, Usung Baterai 7.200mAh dan Layar 144Hz
- 10Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem









