Sumsel

8 Fakta Gempa 7,7 SR Myanmar Thailand, Amnesty Internasional Minta Akses Kemanusiaan Dibuka

St Shofia Munawaroh | 29 Maret 2025, 07:00 WIB
8 Fakta Gempa 7,7 SR Myanmar Thailand, Amnesty Internasional Minta Akses Kemanusiaan Dibuka

AKURAT. CO SUMSEL - Gempa berkekuatan 7,7 skala richter mengguncang Myanmar dan negara tetangganya, Thailand.

Akibat dari gempa tersebut, sejumlah bangunan dan infrastruktur di Thailand mengalami kerusakan.

Berikut adalah fakta-fakta gempa Myanmar - Thailand yang berhasil dihimpun:

Baca Juga: Bandara SMB II Palembang Padat! 222 Ribu Penumpang Terbang Sejak Libur Lebaran Dimulai

1. Pusat Gempa

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), melaporkan bahwa pusat gempa Myanmar berada pada jarak 12 kilometer barat laut kota Sagaing dengan kedalaman 10 kilometer dari permukaan bumi.

Gempa dilaporkan terjadi pukul 12.50 waktu setempat. 

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah dan Shalat Subuh Kota Palembang Sabtu 29 Ramadhan 1446 H

2. Gempa Susulan

Gempa susulan dengan kekuatan mencapai Magnitudo 6,4 dilaporkan mengguncang area yang sama di Myanmar sekitar beberapa menit setelah gempa pertama.

3. Sejumlah bangunan dan infrastruktur di Myanmar rusak

Baca Juga: Gubernur Sumsel Herman Deru Gelar Open House Idul Fitri 1446 H di Griya Agung Selama Dua Hari

Seorang warga Mandalay, Myanmar mengatakan jika ia melihat bangunan gedung lima lantai runtuh saat gempa bermagnitudo 7,7 terjadi.

Selain itu, sebuah jembatan penghubung Ava dengan Sagaing juga dilaporkan ambruk akibat gempa.

Hal itu terekam dalam video amatir dan kemudian beredar di media sosial.

Baca Juga: Lonjakan Pemudik di Pelabuhan Tanjung Api-Api: Lebih dari 7.600 Orang Menyeberang ke Bangka Belitung

Beberapa bagian jembatan Sagaing Lama tampak runtuh dan jatuh ke dalam Sungai Irawaddy, yang mengalir dari utara ke selatan Myanmar. 

4. Guncangan terasa hingga Thailand dan China

Selain Thailand, gempa bermagnitudo 7,7 SR itu juga terasa di area Provinsi Yunnan, China bagian barar daya. 

Baca Juga: Arus Mudik Lampung-Palembang Meningkat, Tol Keramasan Siaga Maksimal Antisipasi Kepadatan

5. Gedung Pencakar Langit di Thailand runtuh 

Gedung setinggi 30 lantai di pusat kota Bangkok, Thailand dilaporkan ambruk akibat gempa berkekuatan 7,7 SR yang guncang Myanmar.

Sebuah video dramatis beredar di media sosial menunjukkan gedung bertingkat runtuh menjadi puing-puing berawan debu.

Baca Juga: Polsek Sukarami Palembang Berikan Bantuan Sembako kepada Korban Kebakaran di Talang Jambe

Mereka yang melihatnya berteriak-teriak dan kalang kabut berlarian.

6. PM Thailand tetapkan Bangkok jadi Zona Darurat

Perdana Menteri (PM) Thailand, Paetongtarn Shinawatra menetapkan ibu kota Bangkok sebagai "zona darurat" akibat gempa 7,7 SR di Myanmar yang turut dirasakan warganya.

Baca Juga: Tol Palembang-Betung Dibanjiri Pemudik, Jumlah Kendaraan Meningkat Tajam Jelang Lebaran

Ia pun mengimbau agar warga menghindari gedung bertingkat dan tidak menggunakan lift untuk sementara waktu.

7. Tiga Mal Besar di Bangkok ditutup Sementara

Tiga mal besar di ibu kota Thailand yang dioperasikan oleh Siam Piwat Group ditutup untuk sementara.

Baca Juga: Sekda Palembang Ingatkan ASN Tak Gunakan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran

Para staff dan pengunjung dilaporkan telah dievakuasi dan dalam kondisi selamat.

Mall-mal besar tersebut antara lain: Siam Paragon, Siam Center, dan Siam Discovery di pusat kota Bangkok. 

8. Amnesty Internasional minta Militer Myanmar buka akses bantuan kemanusiaan

Baca Juga: PT Pusri Palembang Berangkatkan 150 Pemudik Gratis, Fasilitas Lengkap Dijamin Aman dan Nyaman

Tertutupnya akses media di Myanmar akibat kudeta militer sejak 2021 membuat informasi seputar kerusakan dan dampak gempa 7,7 SR itu sulit diketahui.

Padahal pusat gempa dilaporkan ada di wilayah yang sebelumnya telah porak poranda akibat serangan udara militer dan pertempuran bertahun-tahun di Myanmar.

Baca Juga: Jembatan Ampera Ditutup Selama Shalat Idul Fitri, Ini Lokasi Parkir Aman yang Disediakan

Peneliti dari Amnesty Internasional, Joe Freeman pun meminta agar militer Myanmar membuka akses bantuan kemanusian kepada seluruh warga terdampak. 

“Hak asasi manusia harus menjadi pusat dari semua upaya bantuan, dan tidak boleh ada diskriminasi dalam pemberian bantuan,” terangnya. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.