Sumsel

Fenomena Udara Dingin di Sumsel, BMKG Ungkap Fakta di Baliknya

Maman Suparman | 20 Agustus 2025, 18:15 WIB
Fenomena Udara Dingin di Sumsel, BMKG Ungkap Fakta di Baliknya

 

AKURAT.CO SUMSEL Warga Palembang dalam beberapa hari terakhir merasakan udara pagi yang lebih dingin dibanding biasanya. Kondisi ini ternyata bukan anomali cuaca, melainkan fenomena alam yang kerap terjadi saat musim kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa suhu dingin dipicu oleh tutupan awan yang menghalangi masuknya sinar matahari. Akibatnya, permukaan tanah tidak mendapat pemanasan optimal.

“Sejak Senin, rata-rata wilayah Sumsel tertutup awan. Itu yang membuat udara pagi terasa lebih sejuk,” jelasnya, Rabu (20/8/2025).

Menurut BMKG, berkurangnya intensitas radiasi matahari pada musim kemarau membuat udara siang hari tidak terlalu hangat.

Baca Juga: 2 Hari Terjebak di Sumur, Pemadam Kebakaran Palembang Selamatkan Seekor Kucing

Sementara pada malam hingga dini hari, sisa energi radiasi yang tersimpan di permukaan tanah dilepaskan ke atmosfer. Inilah yang membuat suhu pagi terasa lebih rendah dari biasanya.

“Fenomena ini wajar. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, karena masih dalam kategori normal,” tambah Wandayantolis.

Meski sedang musim kemarau, BMKG mencatat hujan ringan hingga sedang masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah Sumsel. Peluang hujan diperkirakan muncul pada dasarian II hingga III Agustus 2025.

Sebagian besar wilayah diprediksi mengalami curah hujan rendah (0–50 mm). Namun beberapa daerah seperti Pagaralam bagian timur, OKU Selatan barat, sebagian kecil Lahat, OKU barat, Muara Enim barat, dan Musi Rawas Utara masih berpotensi mengalami curah hujan kategori menengah.

Selain menjaga kesehatan tubuh di tengah perubahan suhu, masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan mendadak disertai petir dan angin kencang.

“Selain cuaca dingin, perlu diantisipasi juga peningkatan titik panas di Sumsel. Jagalah kebersihan lingkungan agar risiko kebakaran hutan dan lahan bisa ditekan,” pungkas Wandayantolis. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia