DPR Kritik Permintaan Tambahan Anggaran Rp 20 Triliun dari Menteri Natalius Pigai

AKURAT.CO SUMSEL - Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, memberikan tanggapan terkait permintaan tambahan anggaran dari Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, yang meminta peningkatan anggaran dari Rp64 miliar menjadi Rp20 triliun.
Harusnya kata Andreas, Menteri Pigai perlu membahas hal tersebut secara internal terlebih dahulu.
Apalagi dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menekankan pentingnya efisiensi anggaran dalam kabinet.
Baca Juga: Pengamat: Formasi Kabinet Prabowo Lebih Terfokus pada Kepentingan Politik daripada Efektivitas
"Menteri adalah pembantu presiden, jadi sebelum ada permintaan anggaran tambahan, sebaiknya dibicarakan dulu dalam rapat koordinasi internal bersama menteri koordinatornya," kata Andreas dikutip dari Akurat co, Jumat (25/10/2024).
Menurutnya, anggaran tahun 2025 sudah dibahas dan ditetapkan bersama antara pemerintah dan DPR, sehingga permintaan tambahan sebesar itu kurang relevan dalam konteks efisiensi anggaran.
Ia juga menyebutkan bahwa adanya pemisahan tiga kementerian, yaitu Kementerian Hukum, Kementerian HAM, dan Kementerian Imigrasi dan Lapas, membuat alokasi anggaran harus dikelola secara efektif dan transparan.
Andreas mengingatkan bahwa kenaikan anggaran yang signifikan pada satu kementerian dapat mempengaruhi kebijakan fiskal nasional. Hal ini membuat perubahan anggaran tidak dapat dilakukan sembarangan.
Bahkan, jika memang penambahan anggaran itu disetujui diperlukan perencanaan yang matang dan tranparansi agar dapat dialokasikan dengan efektif.
Meskipun Natalius Pigai beralasan bahwa tambahan anggaran diperlukan untuk mendukung program prioritas Presiden, seperti makan bergizi gratis dan pembangunan tiga juta rumah, Andreas tetap menegaskan pentingnya perencanaan dan perhitungan matang agar selaras dalam tujuan jangka panjang pemerintah.
Sebelumnya, Menteri Natalius Pigai mengungkapkan bahwa tambahan anggaran tersebut diperlukan untuk menunjang kerja Kementerian HAM yang baru.
Hal itu meliputi pembangunan dan pengawasan HAM di seluruh wilayah Indonesia, serta penanganan kasus pelanggaran HAM yang kompleks.
Kendati demikian, Andreas menyatakan bahwa meskipun tujuan Pigai baik, terutama dengan rencana sosialisasi HAM di 79 ribu desa dan pendirian Universitas Hak Asasi Manusia pertama di dunia.
Namun, kajian mendalam diperlukan untuk memastikan bahwa anggaran tersebut digunakan secara efektif tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat atau program prioritas lainnya, seperti ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









