Poin-poin Penyebab AS Iran Gagal Damai Usai Negoisasi 21 Jam di Pakistan, Nuklir Jadi Sorotan Utama

AKURAT.CO SUMSEL - Perundingan untuk menuju damai antara AS dengan Iran yang berlangsung di Pakistan selama 21 jam pada Minggu (12/4/2026) berakhir gagal.
Perundingan yang digelar di Islamabad, Pakistan ini merupakan pertemuan langsung pertama antara AS dengan Iran dalam lebih dari satu dekade dan menjadi pembicaraan tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.
Pembiccaraan dilakukan setelah gencatan senjata yang disepakati pada awal pekan lalu.
Baca Juga: Respons Cepat Herman Deru, Kemacetan Parah di Jalan Tanjung Api-Api Berhasil Diurai
Dalam pertemuan tersebut, delegasi dari kedua negara bernegoisasi untuk mengakhiri perang yang terjadi di Timur Tengah.
Namun, setelah hampir satu hari berlangsung, kesepakatan untuk menuju damai dan mengakhiri perang itu gagal dicapai.
Kedua negara pun saling menyalahkan atas gagalnya negoisasi yang berlangsung selama lebih dari 12 jam tersebut.
Baca Juga: Sejumlah Daerah di Sumsel Ajukan Status Siaga Karhutla Lebih Awal, Antisipasi Kemarau 2026
Penyebab Gagalnya Negoisasi Versi AS dan Iran
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) James David Vance menyebut pembicaraan selama 21 jam itu gagal setelah Iran menolak syarat utama untuk damai dari pihak AS, yakni tidak mengembangkan senjata nuklir.
Vance menegaskan, Amerika Serikat membutuhkan komitmen tegas dari Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir.
Baca Juga: Kasus TBC di Sumsel Masih Tinggi, Penemuan Pasien Tembus 24 Ribu Sepanjang 2025
Meski belum ada kesepakatan, AS menyebut masih memberikan penawaran terbaik terakhir dan menunggu respons dari Iran.
Sementara itu, media Tasnim menyebut bahwa tuntutan Amerika Serikat agar Iran menghentikan program nuklirnya dinilai berlebihan.
Tuntutan berlebihan itulah yang dinilai menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan.
Baca Juga: Polisi Ungkap Penyebab Rekayasa Lalu Lintas di Tanjung Api-Api, Kemacetan Tak Terhindarkan
Adapun Pakistan disebut sempat berupaya memfasilitasi putaran lanjutan dan pertukaran draaf kesepakatan sejak Minggu (12/4/2026) pagi.
Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan hingga kini belum ada update informasi mengenai jadwal maupun lokasi untuk perundingan berikutnya.
Poin-poin yang Jadi Ganjalan Perundingan AS Iran
Baca Juga: Polisi Ungkap Penyebab Rekayasa Lalu Lintas di Tanjung Api-Api, Kemacetan Tak Terhindarkan
Beberapa hal dinilai menjadi ganjalan utama yang menyebabkan kesepakatan damai antara AS dengan Iran gagal tercapai, diantaranya:
1. Selat Hormuz
Selain senjata nuklir, kedaulatan wilayah perairan Selat Hormuz juga menjadi batu sandungan utama dalam dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Cekcok Warisan Berujung Maut, Pria di Lubuk Linggau Tewas Ditusuk di Depan Keluarga
Iran secara terbuka menolak segala bentuk pengurangan kehadiran militer mereka di jalur perdangan minyak paling vital tersebut.
Sikap keras Teheran ini pun memicu perdebatan sengit dengan utusan Washington yang menginginkan stabilitas akses internasional.
2. Lebanon
Baca Juga: Misteri Mayat di Sungai Musi Terungkap, Korban Mahasiswa Asal Talang Kelapa
Serangan Israel terhadap sekutu Iran di Lebanon, kelompok Hizbullah, juga dinilai dapat menggagalkan perundingan bahkan sebelum negoisasi dimulai.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan tidak ada "gencatan senjata" jika menyangkut Hizbullah, tetapi peringatan berulang Israel kepada warga pinggiran selatan Beirut untuk mengungsi sejauh ini belum menghasilkan tindakan lebih lanjut.
Donald Trump mengatakan tindakan Israel di Lebanon kini akan "sedikit lebih rendah skalanya", dan Departemen Luar Negeri AS menyatakan pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon akan berlangsung di Washington pekan depan.
Baca Juga: Mayat Pria Misterius Mengambang di Sungai Musi, Ditemukan Bawa Kartu Hotel
3. Keringanan Sanksi
Iran telah dikenai rentetan sanksi internasional yang melumpuhkan selama puluhan tahun.
Iran menuntut AS dan berbagai negara mencabut sanksi sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Baca Juga: Awal Tahun Masih Rendah, Pajak Daerah Sumsel Baru Tembus 18 Persen
Pada Jumat (10/04/2026), Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan sekitar US$120 miliar aset Iran yang dibekukan harus dicairkan sebelum perundingan dimulai.
Menurutnya, ini adalah salah satu dari dua langkah yang telah disepakati sebelumnya (yang lainnya adalah gencatan senjata di Lebanon).
Namun pernyataan pada 7 April dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang mengumumkan gencatan senjata dua minggu tidak menyebutkan apa pun mengenai pencairan aset yang dibekukan.
Tidak jelas kesepakatan apa yang dirujuk oleh Qalibaf.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







