Sumsel

Konflik Timur Tengah Tekan Industri Karet Sumsel, Biaya Produksi Terancam Naik

Kurnia | 7 April 2026, 21:00 WIB
Konflik Timur Tengah Tekan Industri Karet Sumsel, Biaya Produksi Terancam Naik

AKURAT.CO SUMSEL Industri karet di Sumatera Selatan menghadapi tekanan baru akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Kenaikan harga energi dan terganggunya jalur pelayaran internasional disebut berpotensi mendorong lonjakan biaya produksi hingga lebih dari 10 persen.

Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Eddy, mengatakan dampak konflik, khususnya di kawasan Selat Hormuz, mulai terasa pada industri karet. Kenaikan harga minyak dunia turut memicu mahalnya bahan baku penolong seperti plastik yang digunakan dalam proses produksi.

“Dampaknya langsung terasa ke biaya produksi. Harga bahan penolong seperti plastik ikut naik, ditambah pelemahan rupiah,” ujarnya, Selas (7/4/2026).

Baca Juga: WFH Tapi Tak Bisa Santai, ASN Dituntut Respons Super Cepat

Ia menjelaskan, meski harga karet alam di pasar internasional mengalami kenaikan, kondisi tersebut belum sepenuhnya menguntungkan produsen. Pasalnya, biaya produksi yang ikut meningkat membuat margin keuntungan tetap tertekan.

Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku juga berdampak pada tingkat petani. Persaingan antar pabrik dalam memperoleh bahan baku karet mendorong harga beli ikut meningkat, sehingga perusahaan harus melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha.

“Pabrik harus lebih ketat mengatur anggaran agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi ini,” kata Alex.

Gapkindo juga mewaspadai dampak jangka panjang apabila konflik berkepanjangan. Melemahnya ekonomi negara tujuan ekspor berpotensi menurunkan permintaan karet alam, terutama dari industri ban global.

“Kalau kondisi global memburuk, pabrik ban bisa mengurangi produksi. Ini tentu berdampak pada permintaan karet dari Indonesia,” ujarnya.

Meski demikian, hingga saat ini aktivitas ekspor karet dari Sumatera Selatan masih berjalan normal. Belum ada laporan keterlambatan pengiriman, dan negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, India, dan Korea Selatan masih relatif stabil.

Sementara itu, data Gapkindo Sumsel mencatat produksi karet mengalami penurunan pada awal 2026.

Pada Januari, produksi tercatat sebesar 58.742 ton atau turun 14,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan juga terjadi pada Februari dengan produksi sebesar 63.674 ton atau turun sekitar 7 persen.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia