Sumsel

Bea Masuk Nol Persen ke AS, Ekonomi Sumsel Diprediksi Melesat Lewat Ekspor Sawit dan Karet

Kurnia | 25 Februari 2026, 18:20 WIB
Bea Masuk Nol Persen ke AS, Ekonomi Sumsel Diprediksi Melesat Lewat Ekspor Sawit dan Karet

AKURAT.CO SUMSEL Kabar baik bagi sektor perdagangan Sumatera Selatan (Sumsel). Kesepakatan kebijakan tarif bea cukai nol persen antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) membuka pintu lebar bagi produk ekspor Bumi Sriwijaya untuk bersaing di level global.

Gubernur Sumsel, Herman Deru, menyambut optimis kesepakatan ini sebagai stimulus baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Sejumlah komoditas andalan Sumsel kini memiliki daya saing harga yang lebih kompetitif di pasar Negeri Paman Sam.

Meski peluang terbuka lebar, Herman Deru mengingatkan para pelaku usaha, khususnya di sektor karet dan sawit, untuk lebih jeli memetakan strategi. Mengingat pasar global yang semakin ketat, kualitas produk menjadi kunci utama agar barang asal Sumsel tetap menjadi pilihan utama di AS.

"Peluang ekspor kita sangat besar. Kita tahu Sumsel kaya akan komoditas unggulan. Namun, pengusaha harus memerhatikan mana produk yang benar-benar menjadi prioritas untuk dikirim ke sana agar tetap kompetitif," ujar Herman Deru, Rabu (25/2/2026).

Baca Juga: Besok, Jenazah Alex Noerdin Diterbangkan ke Palembang dan Dimakamkan di TPU Kebun Bunga

Komoditas yang mendapat tarif nol persen ke AS meliputi produk perkebunan (CPO, karet, kopi, kakao, rempah), sektor industri (semikonduktor dan komponen pesawat), serta produk tekstil melalui skema Tariff Rate Quota (TRQ).

Kebijakan ini diharapkan mampu mendongkrak harga jual karet Sumsel yang saat ini dinilai masih berada di level rendah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan memperkuat optimisme ini. Kepala BPS Sumsel, Wahyu Moh Yulianto, mengungkapkan bahwa tren ekspor nonmigas daerah ini tengah berada pada jalur positif.

Tercatat per Januari 2025, nilai ekspor Sumsel mengalami lonjakan signifikan sebesar 18,87 persen dengan capaian 543,43 juta dolar AS. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor nonmigas yang meroket 23,21 persen, terutama dari kontribusi batu bara, CPO, dan produk karet.

"Melihat minat pasar internasional terhadap CPO yang sangat tinggi, kami yakin ekonomi daerah akan terdorong lebih baik lagi. Para eksportir diharapkan terus meningkatkan kapasitas produksi untuk menangkap peluang ini," pungkas Wahyu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia