Nilai Rupiah Diprediksi Capai Rp16.000 Per Dolar AS Pekan Depan, Buntut Dari Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO SUMSEL Mata uang rupiah diprediksi akan tergelincir hingga mencapai level Rp16.000 per dollar AS pada pekan depan. Hal ini merupakan buntut dari semakin panasnya konflik yang terjadi antara Hamas dan Israel.
Pengamat Pasar Uang serta Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan melemahnya nilai rupiah dipicu oleh gejolak di Timur Tengah usai Iran merekomendasikan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk melakukan pembatasan suplai minyak terhadap Israel.
Hal tersebut membuat kondisi di kawasan Timur Tengah semakin panas, walaupun hingga kini rekomendasi tersebut belum direspon oleh OPEC.
“Rupiah minggu depan menuju puncaknya di Rp16.000 per dolar AS karena memanasnya konflik Timur Tengah. Selain itu karena dibomnya rumah sakit di Gaza yang menewaskan 500 orang diantaranya ibu dan anak membuat berang negara-negara lain di dunia," kata Ibrahim, dikutip dari Akurat.co, Kamis (19/10/2023).
Sebagai informasi tambahan, nilai rupiah per hari ini melemah sekitar 0,28% ke level Rp15.780 bahkan sempat menyentuh Rp15.800 per dollar AS. Level ini merupakan yang terendah sejak April 2022 lalu.
Rupiah terpantau melemah terhadap dollar Amerika Serikat ketika selisih antara US Treasury dan SBN semakin menipis dan dengan keputusan Bank Indonesia perihal suku bunga.
Sementara indeks dollar AS (DXY) hari ini, Kamis (19/10/2023) pukul 09.04 pagi, berada pada posisi 106,58 atau naik 0,02% jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan, Rabu kemarin yang ditutup di angka 106,56.
Sebagai konsekuensi, Bank Indonesia diprediksi bakal menggerus cadangan devisa guna langkah stabilisasi rupiah serta menahan derasnya laju modal asing keluar. Pada bulan Oktober ini, nilai tukar rupiah ambles 1,75% jauh lebih besar jika dibandingkan dengan bulan September kemarin, yang tercatat 1,48%. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









