Sumsel
HL Sumsel

Ramai Pembahasan Film Pesta Babi, Berikut Sinopsis hingga Deretan Kontroversinya

Septiyanti Dwi Cahyani | 16 Mei 2026, 16:15 WIB
Ramai Pembahasan Film Pesta Babi, Berikut Sinopsis hingga Deretan Kontroversinya
Poster film Pesta Babi.

AKURAT. CO SUMSEL - Film Pesta Babi telah menjadi topik perbincangan hangat masyarakat luas belakangan ini.

Terutama sejak sejumlah acara nonton bareng (nobar) dokumenter tersebut dilaporkan dibubarkan oleh aparat di beberapa daerah.

Di media sosial, nama film ini terus muncul bersamaan dengan diskusi soal Papua, proyek strategis nasional, hingga kebebasan berekspresi.

Baca Juga: Aparatur Negara Tewas Ditembak Rekan Sendiri di THM Palembang, Pelaku Diperiksa Intensif

Fenomena ini membuat masyarakat penasaran, tentang apa film Pesta Babi, bagaimana alur cerita dan apa saja yang disorot hingga agenda nobar di sejumlah daerah harus dibubarkan? Simak ulasannya berikut ini.

Sinopsis Film Pesta Babi

Secara garis besar, film Pesta Babi memperlihatkan benturan antara agenda pembangunan nasional dan kehidupan masyarakat adat Papua.

Baca Juga: 10 Hari OMC di Sumsel, Ribuan Kilogram Garam Disebar untuk Basahi Gambut

Cerita di dalamnya berfokus di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, kawasan yang belakangan ramai dibicarakan karena proyek food estate, industri bioetanol, hingga ekspansi perkebunan besar.

Dalam dokumenter tersebut, digambarkan hutan yang selama ini menjadi sumber pangan dan identitas budaya perlahan berubah menjadi kawasan industri.

Berdasarkan keterangan tertulis di akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru, film ini disebut merekam perjuangan masyarakat adat Papua “mempertahankan tanah leluhur dari ekspansi proyek industri raksasa atas nama ketahanan pangan dan transisi energi.”

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Merosot Tajam di Akhir Pekan, Termahal Hanya Rp14,5 Juta per Suku

Salah satu yang menarik dari film ini bukan hanya soal isu lingkungannya saja, melainkan cara film memperlihatkan perubahan itu dari sudut pandang masyarakat lokal.

Penonton tidak hanya melihat alat berat dan pembukaan lahan, tetapi juga melihat: ritual adat, kehidupan kampung, keresahan warga, hingga ketakutan masyarakat kehilangan masa depan generasi mereka.

Kontroversi Film Pesta Babi

Baca Juga: Aparatur Negara Tewas Diduga Ditembak Rekannya di Tempat Hiburan Malam Palembang

Film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" (2026) karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale menuai kontroversi akibat adanya pembubaran paksa acara nonton bareng (nobar) oleh pihak keamanan dan ormas di sejumlah daerah. Berikut beberapa diantaranya:

1. Makna Judul yang Disalahartikan

Istilah "Pesta Babi" diambil dari tradisi sakral suku Muyu (Awon Atatbon) di Papua.

Baca Juga: Dari 980 Ribu Petani, Baru 321 Ribu di Sumsel Terima Pupuk Subsidi

Dalam budaya tersebut, babi dan hutan adalah simbol kehormatan serta identitas sosial yang terancam punah akibat alih fungsi hutan.

Sutradara menepis tuduhan bahwa film ini bermaksud menghina simbol atau kelompok tertentu.

2. Pembubaran Nobar

Baca Juga: Kasus Tabrakan Maut Bus ALS vs Truk Tangki di Muratara Naik Penyidikan, Polisi Segera Gelar Perkara

Pemutaran film di berbagai kampus (seperti Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok) dan ruang publik sempat dibubarkan paksa karena tekanan massa dan masalah perizinan dari birokrasi kampus.

3. Muatan Film Dianggap Provoaktif

Alasan penolakan nobar film Pesta Babi oleh aparat ini beragam, salah satunya muatan film yang dinilai provokatif.

Baca Juga: Sering Salah Ukuran Saat Belanja Online? Ini Cara Simpel Agar Tidak Kecewa Setelah Checkout

3. Sikap Pemetintah dan DPR

Setelah ramai-ramai pembubaran nobar Pesta Babi tersebut, kini pemerintah dan DPR kompak menegaskan tidak ada pelarangan.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan arahan ataupun kebijakan pelarangan pemutaran film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Baca Juga: Watchdoc Buka Nobar Gratis Film Pesta Babi, Cukup Kumpulkan 10 Orang

Yusril mengatakan, larangan nobar di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) karena persoalan administratif. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.