Ramai Pembahasan Film Pesta Babi, Berikut Sinopsis hingga Deretan Kontroversinya

AKURAT. CO SUMSEL - Film Pesta Babi telah menjadi topik perbincangan hangat masyarakat luas belakangan ini.
Terutama sejak sejumlah acara nonton bareng (nobar) dokumenter tersebut dilaporkan dibubarkan oleh aparat di beberapa daerah.
Di media sosial, nama film ini terus muncul bersamaan dengan diskusi soal Papua, proyek strategis nasional, hingga kebebasan berekspresi.
Baca Juga: Aparatur Negara Tewas Ditembak Rekan Sendiri di THM Palembang, Pelaku Diperiksa Intensif
Fenomena ini membuat masyarakat penasaran, tentang apa film Pesta Babi, bagaimana alur cerita dan apa saja yang disorot hingga agenda nobar di sejumlah daerah harus dibubarkan? Simak ulasannya berikut ini.
Sinopsis Film Pesta Babi
Secara garis besar, film Pesta Babi memperlihatkan benturan antara agenda pembangunan nasional dan kehidupan masyarakat adat Papua.
Baca Juga: 10 Hari OMC di Sumsel, Ribuan Kilogram Garam Disebar untuk Basahi Gambut
Cerita di dalamnya berfokus di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, kawasan yang belakangan ramai dibicarakan karena proyek food estate, industri bioetanol, hingga ekspansi perkebunan besar.
Dalam dokumenter tersebut, digambarkan hutan yang selama ini menjadi sumber pangan dan identitas budaya perlahan berubah menjadi kawasan industri.
Berdasarkan keterangan tertulis di akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru, film ini disebut merekam perjuangan masyarakat adat Papua “mempertahankan tanah leluhur dari ekspansi proyek industri raksasa atas nama ketahanan pangan dan transisi energi.”
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Merosot Tajam di Akhir Pekan, Termahal Hanya Rp14,5 Juta per Suku
Salah satu yang menarik dari film ini bukan hanya soal isu lingkungannya saja, melainkan cara film memperlihatkan perubahan itu dari sudut pandang masyarakat lokal.
Penonton tidak hanya melihat alat berat dan pembukaan lahan, tetapi juga melihat: ritual adat, kehidupan kampung, keresahan warga, hingga ketakutan masyarakat kehilangan masa depan generasi mereka.
Kontroversi Film Pesta Babi
Baca Juga: Aparatur Negara Tewas Diduga Ditembak Rekannya di Tempat Hiburan Malam Palembang
Film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" (2026) karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale menuai kontroversi akibat adanya pembubaran paksa acara nonton bareng (nobar) oleh pihak keamanan dan ormas di sejumlah daerah. Berikut beberapa diantaranya:
1. Makna Judul yang Disalahartikan
Istilah "Pesta Babi" diambil dari tradisi sakral suku Muyu (Awon Atatbon) di Papua.
Baca Juga: Dari 980 Ribu Petani, Baru 321 Ribu di Sumsel Terima Pupuk Subsidi
Dalam budaya tersebut, babi dan hutan adalah simbol kehormatan serta identitas sosial yang terancam punah akibat alih fungsi hutan.
Sutradara menepis tuduhan bahwa film ini bermaksud menghina simbol atau kelompok tertentu.
2. Pembubaran Nobar
Baca Juga: Kasus Tabrakan Maut Bus ALS vs Truk Tangki di Muratara Naik Penyidikan, Polisi Segera Gelar Perkara
Pemutaran film di berbagai kampus (seperti Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok) dan ruang publik sempat dibubarkan paksa karena tekanan massa dan masalah perizinan dari birokrasi kampus.
3. Muatan Film Dianggap Provoaktif
Alasan penolakan nobar film Pesta Babi oleh aparat ini beragam, salah satunya muatan film yang dinilai provokatif.
Baca Juga: Sering Salah Ukuran Saat Belanja Online? Ini Cara Simpel Agar Tidak Kecewa Setelah Checkout
3. Sikap Pemetintah dan DPR
Setelah ramai-ramai pembubaran nobar Pesta Babi tersebut, kini pemerintah dan DPR kompak menegaskan tidak ada pelarangan.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan arahan ataupun kebijakan pelarangan pemutaran film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Baca Juga: Watchdoc Buka Nobar Gratis Film Pesta Babi, Cukup Kumpulkan 10 Orang
Yusril mengatakan, larangan nobar di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) karena persoalan administratif. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Bansos PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Aturan Jadwal, Besaran Nominal hingga Cara Cek Penerima
- 2Jadwal Timnas Indonesia Vs Vietnam, Laga Penentu Tiket Semifinal Piala AFF U 19 2026
- 3Harga Karet Sumsel Tembus Rp41 Ribu per Kg, Petani Nikmati Kenaikan Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
- 4Kapan PIP Kemendikdasmen Juni 2026 Cair? Pantau Jadwal Penyaluran Termin 2 di Sini
- 5Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia 2026 dengan Jam Tayang WIB
- 6Daftar Harga BBM Terbaru di Sumsel, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Lagi
- 7Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
- 85 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo di Bundaran HI Jakarta Hari Ini
- 9Vivo S60 Series Resmi Meluncur, Usung Baterai 7.200mAh dan Layar 144Hz
- 10Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem






