Inflasi Palembang Capai 3,10 Persen, Jadi Penentu Utama Harga di Sumsel

AKURAT.CO SUMSEL Laju inflasi di Kota Palembang kembali menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi tahunan (year-on-year) mencapai 3,10 persen pada Maret 2026.
Angka tersebut menempatkan Palembang sebagai salah satu dari 10 kota dengan inflasi tertinggi di wilayah Sumatera.
Meski demikian, secara bulanan (month-to-month), inflasi Palembang justru tergolong lebih rendah. Pada Maret 2026, inflasi tercatat sebesar 0,28 persen, di bawah rata-rata nasional yang mencapai 0,41 persen.
Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, menyebut peran Palembang sangat dominan dalam memengaruhi pergerakan harga di tingkat provinsi. Ia mengatakan, kontribusi inflasi dari kota ini mencapai sekitar 60 persen terhadap total inflasi Sumatera Selatan.
“Palembang menjadi barometer utama inflasi di Sumatera Selatan, sementara daerah lain seperti OKI, Muara Enim, dan Lubuklinggau memberikan kontribusi sisanya,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Dari sisi akumulasi tahun berjalan (year-to-date), inflasi Palembang berada di angka 0,91 persen.
Capaian ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,52 persen, menunjukkan kondisi yang relatif lebih terkendali.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan paling besar disumbang oleh sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 1,42 persen.
Baca Juga: Pemkot Palembang Tegaskan WFH Bukan Libur, ASN Wajib Siap Dipanggil Kapan Saja
Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut menyumbang 0,77 persen.
Secara regional, inflasi Palembang masih sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi Provinsi Sumatera Selatan yang berada di angka 3,09 persen.
Sementara itu, kota dengan inflasi terendah di Sumatera tercatat di Kerinci dengan angka 1,29 persen.
Untuk inflasi bulanan di tingkat kabupaten/kota se-Sumatera Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ilir mencatat angka tertinggi sebesar 0,36 persen, disusul Palembang 0,28 persen, Lubuklinggau 0,27 persen, dan Muara Enim 0,24 persen.
Edi menilai, sejumlah komoditas yang sulit dikendalikan pemerintah daerah masih menjadi faktor pendorong inflasi, seperti harga emas perhiasan dan penyesuaian tarif listrik.
Meski inflasi Palembang masih berada dalam batas target nasional sebesar 3,5 persen, ia menekankan pentingnya penguatan langkah pengendalian harga. Hal ini mengingat besarnya pengaruh Palembang terhadap stabilitas inflasi di Sumatera Selatan secara keseluruhan.
“Pengendalian harus terus diperkuat karena kontribusi Palembang sangat besar terhadap inflasi daerah,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









