10.644 KK di Palembang Tergolong Miskin Ekstrem, Pemkot Fokus Bansos Tepat Sasaran

AKURAT.CO SUMSEL Dinas Sosial (Dinsos) Palembang mencatat bahwa hingga September 2024, terdapat 10.644 Kepala Keluarga (KK) yang tergolong miskin ekstrem.
Situasi ini mengundang perhatian serius dari pemerintah kota, terutama dalam upaya menanggulangi kemiskinan ekstrem yang terus membayangi sejumlah wilayah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Palembang, Aprizal Hasyim, menekankan bahwa masyarakat yang termasuk dalam kategori miskin ekstrem harus menjadi fokus penanganan pemerintah.
“Masyarakat Palembang yang tergolong miskin ekstrem harus ditangani secara maksimal,” ujar Aprizal dalam keterangannya, Rabu (23/10/2024).
Kriteria miskin ekstrem sendiri ditetapkan bagi KK yang hanya memiliki pendapatan harian sebesar Rp10 ribu. Data menunjukkan bahwa mayoritas KK berpenghasilan rendah ini berasal dari kawasan Ulu, terutama Kertapati dan Gandus.
Di sisi lain, Kecamatan Ilir Timur (IT) 2 menjadi wilayah dengan angka kemiskinan ekstrem terendah, yaitu hanya sekitar 900 KK atau 10 persen dari total KK yang tercatat di Dinsos.
Baca Juga: Kesal Ditegur karena Lawan Arah, Ibu Rumah Tangga Aniaya Siswi SMP di Lubuklinggau
Menurut Aprizal, upaya untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem memerlukan sinergi lintas sektoral, termasuk kolaborasi antara lurah, camat, RT, dan RW.
Mereka berperan penting dalam pendataan warga miskin, memastikan bantuan sosial (bansos) seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) tepat sasaran.
“Miskin ekstrem biasanya identik dengan pengangguran. Oleh karena itu, peran aktif dari RT dan RW sangat diperlukan untuk mengusulkan warga yang membutuhkan pelatihan kerja kepada OPD terkait, seperti pelatihan menjahit atau keterampilan bengkel,” jelasnya.
Selain kemiskinan, isu stunting juga menjadi perhatian utama pemerintah kota. Aprizal menyebutkan, penanganan stunting harus dimulai dari ibu hamil hingga masa pertumbuhan anak, dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di tingkat kota harus turut berkontribusi dalam mengatasi masalah ini.
“Penanganan stunting memerlukan keterlibatan aktif RT dan RW dalam memberikan pembinaan, dimulai dari masa kehamilan hingga anak-anak. Ini sangat penting karena stunting berdampak pada kesehatan bayi yang baru lahir,” pungkasnya. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Daftar Tuntutan Demo Mahasiswa di Jakarta Hari Ini: Harga BBM, MBG dan KDMP Jadi Sorotan Utama
- 45 Ramalan Zodiak Hari Ini, Selasa 18 Agustus 2026: Ada yang Berpeluang Dapat Rezeki dan Kabar Baik
- 5Cara Mencairkan Bansos PKH dan BPNT Agustus 2026 Lewat Bank dan Kantor Pos
- 6Bianca Alessia Christabella Lantang, Putri Sulawesi Utara yang Dipercaya Membawa Baki Bendera Pusaka
- 7Update Terbaru Harga Emas Perhiasan Palembang, Naik atau Turun?
- 8Apakah Hari Ini 18 Agustus 2026 Libur? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun








