Sumsel

5 Fakta Menarik Pagoda Pulau Kemaro, Pusat Perayaan Imlek Masyarakat Tionghoa Palembang

Septiyanti Dwi Cahyani | 12 Februari 2026, 10:43 WIB
5 Fakta Menarik Pagoda Pulau Kemaro, Pusat Perayaan Imlek Masyarakat Tionghoa Palembang

AKURAT. CO SUMSEL - Kota Palembang merupakan salah satu kota multikultural di Indonesia.

Hal ini ditandai dengan ragam suku dan etnis yang tinggal di kota Palembang, mulai dari Melayu, Arab, hingga Tionghoa.

Masing-masing suku, termasuk Tionghoa, meninggalkan warisan budaya maupun bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi dan masih dikenang hingga sekarang.

Baca Juga: Sepekan Jelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Pasar Tradisional Palembang Merangkak Naik

Salah satunya adalah Pagoda Pulau Kemaro, kawasan yang kerap dijadikan pusat perayaan Imlek dan Cap Go Meh bagi anak masyarakat Tionghoa di Palembang.

Pagoda ini dibangun pada tahun 2006, memiliki 9 lantai dengan tinggi kurang lebih 45 meter.

Bangunannya didominasi warna merah dan emas, berdekatan dengan Kelenteng Hok Tjing Bio atau lebih dikenal sebagai Kelenteng Kwan Im.

Baca Juga: Sinopsis WARU, Saat Iblis Menagih Perjanjian Masa Lalu Lewat Teror-teror Mengancam Nyawa

Selain bangunannya yang indah, Pagoda Pulau Kemaro juga memiliki berbagai cerita menarik yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Tionghoa. 

Fakta Menarik Pagoda Pulau Kemaro

1. Pagoda memiliki 8 sudut sebagai simbol Pat Kwa atau Kedelapan Trigram. 

Baca Juga: Panduan Lengkap Lapor SPT Tahunan ASN di Coretax DJP, Syarat hingga Cara Aktivasi Akun Wajib Pajak

2. Pagoda dibangun untuk mengenang leluhur Kerajaan Sriwijaya. 

3. Menjadi simbol perdamaian dan persatuan antara budaya lokal dan Tionghoa. 

4. Didesain dengan arsitektur menyerupai pagoda dari negeri Tirai Bambu. 

Baca Juga: PLN Lakukan Pemeliharaan Jaringan, Sebagian Palembang Terdampak Pemadaman Listrik Hari Ini

5. Pagoda memiliki dinding yang dihiasi pahatan warna warni menggambarkan legenda pulau kemaro. 

Sejarah Kedatangan Keturunan Tionghoa di Palembang

Komunitas Tionghoa di Palembang telah ada sejak abad ke-7, berakar dari hubungan dagang zaman Sriwijaya dan meningkat signifikan pada masa Dinasti Ming serta kolonial Belanda (1823).

Baca Juga: Indeks Implisit PDRB Sumsel 2025 Naik Bertahap, Sektor Transportasi dan Perdagangan Tertinggi

Pada abad 14-15 M arus migrasi meningkat, terutama saat ekspedisi nyh Laksamana Cheng Ho.

Komunitas Tionghoa pun mulai menetap dan membentuk pemukiman di sekitar Sungai Musi.

Mayoritas imigran berasal dari Tiongkok Selatan, membawa keahlian industri, kerajinan, dan dagang.

Baca Juga: Tak Terima Difitnah Pelakor di Facebook, IRT di Palembang Polisikan Tetangga

Akhirnya, terjadilah akulturasi yang kuat, termasuk munculnya komunitas Tionghoa Muslim (Baba) di kawasan 3-4 Ulu.

Keberadaan komunitas Tionghoa juga memainkan peranan penting sebagai pedagang perantara (kopi/karet) dan industri pengolahan, yang memperkaya keragaman budaya Palembang. (*) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.