Sumsel

Perang Iran Memanas, Warga Teheran Mulai Menimbun Pangan dan Menghadapi Lonjakan Harga

Kurnia | 9 Maret 2026, 12:00 WIB
Perang Iran Memanas, Warga Teheran Mulai Menimbun Pangan dan Menghadapi Lonjakan Harga

AKURAT.CO SUMSEL Konflik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026 mulai dirasakan langsung oleh masyarakat sipil.

Di ibu kota Iran, Tehran, sejumlah warga dilaporkan mulai menimbun bahan kebutuhan pokok karena khawatir serangan militer akan berlangsung lama.

Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 merupakan bagian dari operasi militer bersama yang menargetkan sejumlah fasilitas dan tokoh penting Iran. Ledakan besar sempat mengguncang beberapa wilayah di Tehran, memicu kepanikan dan ketidakpastian di kalangan warga.

Nasrin, seorang warga Tehran, mengaku keluarganya kini membeli bahan makanan lebih banyak dari biasanya untuk berjaga-jaga.

“Kami harus menyetok barang kebutuhan karena kami tidak tahu berapa lama serangan ini akan berlangsung. Kami khawatir akan kehabisan kebutuhan pokok jika tidak bersiap dari sekarang,” katanya.

Fenomena panic buying juga terlihat di sejumlah toko dan supermarket. Banyak warga berbondong-bondong membeli beras, kentang, minyak, dan kebutuhan dapur lainnya.

Situasi ini membuat beberapa rak toko cepat kosong hanya dalam waktu singkat.

Harga Bahan Pokok Mulai Naik

Selain kekhawatiran terhadap ketersediaan barang, warga juga menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Pouyo, warga Tehran lainnya, mengatakan harga beras kini naik menjadi sekitar 625 toman dari sebelumnya 530 toman sebelum perang pecah.

“Saya baru saja mengecek harga. Beras sekarang jauh lebih mahal dibanding sebelum konflik,” ujarnya.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini Lengkap: Aries, Taurus, Gemini, Leo, Scorpio Paling Hoki

Menurutnya, kenaikan harga paling terasa pada komoditas sayuran seperti kentang yang menjadi bahan makanan sehari-hari.

Gangguan komunikasi juga menjadi masalah serius bagi warga.

Shayan, warga kota Karaj yang berada tidak jauh dari Tehran, mengatakan akses internet kini semakin terbatas.

Ia menyebut harga paket internet melonjak, termasuk layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk.

“Sangat sulit sekarang untuk terhubung ke internet,” katanya.

Pembatasan internet membuat masyarakat kesulitan memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi keamanan di berbagai wilayah.

Ledakan Masih Terdengar

Omid, seorang pemuda berusia 26 tahun, mengaku tidak menyangka konflik akan berlangsung selama ini.

“Awalnya saya mengira serangan hanya menargetkan tokoh tertentu, seperti Ali Khamenei. Setelah itu seharusnya selesai, tetapi ledakan masih terus terdengar hingga beberapa hari,” katanya.

Sementara itu, Maryam yang tinggal di dekat wilayah terdampak mengatakan rumahnya sempat bergetar akibat serangan pada malam hari.

“Serangan semalam sangat mengerikan. Rumah kami sampai bergetar,” ujarnya.

Meski sebagian warga mulai meninggalkan kota, banyak juga yang memilih bertahan di rumah karena keterbatasan biaya dan ketidakpastian situasi.

Organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent Society melaporkan ratusan orang tewas sejak konflik dimulai.

Di sisi lain, militer Israel menyatakan serangan mereka menargetkan berbagai fasilitas strategis Iran, termasuk infrastruktur pemerintahan dan energi.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia