Cinta Bersemi di Facebook, Pria Turki Nikahi Gadis Lubuklinggau dengan Mahar 10 Gram Emas

AKURAT.CO SUMSEL Siapa sangka, sebuah interaksi di media sosial setahun lalu bisa berujung pada janji suci di pelaminan. Inilah yang dialami Desti Wulandari (19), gadis asal Kelurahan Taba Baru, Lubuklinggau, yang resmi dipersunting oleh Emre Daghi, seorang pria asal Turki, pada Jumat (20/2/2026).
Kisah cinta mereka membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer dan perbedaan bahasa bukanlah penghalang jika takdir sudah bicara.
Pagi itu, kediaman Desti tampak berbeda. Emre, yang jauh-jauh terbang dari negaranya, tampil gagah mengenakan pakaian pengantin putih lengkap dengan tanjak penutup kepala tradisional Melayu Sumatera Selatan. Sementara Desti tampak anggun dengan balutan gamis dan jilbab senada.
Meski ada kendala bahasa, prosesi akad nikah tetap berjalan khidmat. Emre menyerahkan mahar berupa 10 gram emas. Untuk memastikan prosesi hukum dan agama berjalan lancar, sebuah pemandangan menarik terlihat: prosesi ijab qabul dibantu oleh seorang penerjemah yang merupakan rekan Emre.
"Alhamdulillah, pernikahan berjalan lancar. Prosesi menggunakan penerjemah, dan maharnya adalah 10 gram emas," ujar Ahmad Taswin, Kepala KUA Lubuklinggau Utara I.
Baca Juga: Stop Kapal Tabrak Jembatan, Pemprov Sumsel Desak KSOP Palembang Terbitkan SOP Baru
Pertemuan keduanya tergolong modern namun penuh perjuangan. Desti dan Emre pertama kali berkenalan melalui Facebook sekitar satu tahun yang lalu. Hubungan jarak jauh (long distance relationship) itu mereka jalani dengan serius hingga akhirnya Emre memutuskan datang ke Indonesia pada Kamis (19/2), sehari sebelum pernikahan.
Kehadiran Emre sebenarnya bukan kejutan besar bagi lingkungan sekitar. Ibu Desti, yang dikenal sebagai pedagang keripik gigih di area KUA dan Kemenag Lubuklinggau, sering berbagi cerita tentang rencana pernikahan putrinya dengan pria asal Turki tersebut.
Di negara asalnya, Emre dikenal sebagai seorang wiraswasta yang memiliki usaha toko kue. Namun, demi cintanya pada alumni SMKN 2 Lubuklinggau ini, ia rela menempuh perjalanan panjang lintas benua.
Setibanya di Lubuklinggau, keduanya tidak membuang waktu. Mereka langsung mendatangi KUA untuk mengikuti bimbingan Calon Pengantin (Catin) guna memantapkan bekal membina rumah tangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








