Sumsel

Sumsel Perkuat Kemandirian Pangan, Enam Daerah Jadi Pemasok Utama Pasar Induk Jakabaring

Maman Suparman | 28 November 2025, 16:45 WIB
Sumsel Perkuat Kemandirian Pangan, Enam Daerah Jadi Pemasok Utama Pasar Induk Jakabaring

AKURAT.CO SUMSEL Pemprov Sumsel serius menggenjot kemandirian pangan daerah dengan memetakan enam wilayah prioritas sebagai pemasok utama komoditas ke Pasar Induk Jakabaring, Palembang.

Strategi ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah dan memaksimalkan potensi pertanian lokal yang dinilai sangat besar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Effendi, mengungkapkan bahwa saat ini proses pemetaan untuk enam daerah tersebut sedang berlangsung.

"Kurang lebih ada enam daerah yang akan menjadi pemasok kebutuhan pangan. Selama ini memang banyak kita mengambil pasokan dari luar, padahal potensi kita sangat besar," ujar Ruzuan, Jumat (28/11/2025).

Enam daerah yang ditetapkan sebagai lumbung pangan prioritas tersebut adalah Lahat, Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Musi Rawas, Pagar Alam, dan Palembang.

Baca Juga: Motor Mogok, Remaja Palembang Lempar TV Rusak, Berujung Dikeroyok Tetangga Gegara Kena Ayam

Ruzuan menjelaskan, Pemprov tidak akan memaksakan satu jenis komoditas untuk semua daerah. Sebaliknya, wilayah-wilayah ini akan diatur pola budi daya dan penanamannya secara spesifik, disesuaikan dengan kondisi geografis.

"Nanti akan disesuaikan dengan tipologi dan topografi lahan di daerah. Kita tidak akan memaksakan lahan untuk ditanam komoditi tertentu," katanya.

Pengaturan pola tanam yang terstruktur ini diharapkan mampu mengatasi masalah klasik, yaitu penumpukan pasokan pada momen tertentu yang menyebabkan harga jatuh, atau sebaliknya, kelangkaan yang memicu inflasi. 

Target utama dari program ini adalah memastikan Sumsel mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri. Menurut Ruzuan, potensi di Sumsel sebenarnya tidak kurang, namun pola tanam yang selama ini tidak teratur menjadi kendala.

Ia mencontohkan komoditas strategis seperti bawang merah. Saat ini, suplai bawang merah dari produksi lokal hanya mampu memenuhi sekitar 3% dari total kebutuhan daerah.

"Bawang merah itu cuma 3% yang bisa menyuplai, padahal potensi kita ada dan cukup besar. Ini yang sedang kita dorong," tegas Ruzuan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia