Sumsel

Inflasi Sumsel Desember 2025 Capai 2,91 Persen, Skincare hingga Emas Jadi Pendorong Utama

Maman Suparman | 5 Januari 2026, 19:00 WIB
Inflasi Sumsel Desember 2025 Capai 2,91 Persen, Skincare hingga Emas Jadi Pendorong Utama

AKURAT.CO SUMSEL Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat tingkat inflasi pada Desember 2025 mencapai 2,91 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini menunjukkan tren kenaikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan inflasi tersebut didorong oleh sejumlah kelompok pengeluaran, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya.

“Kelompok perawatan pribadi menjadi salah satu pendorong utama inflasi, termasuk produk skincare yang mengalami kenaikan harga signifikan dan menyumbang inflasi sebesar 18,23 persen dengan andil 1,39 persen,” ujar Wahyu dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).

Pada Desember 2024, inflasi Sumatera Selatan tercatat sebesar 1,20 persen. Meski mengalami kenaikan cukup tajam pada 2025, pola kelompok penyumbang inflasi masih relatif sama.

Baca Juga: Libur Nataru Dongkrak Trafik Bandara SMB II, Penumpang Tembus 192 Ribu

Selain perawatan pribadi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan kontribusi terhadap laju inflasi di wilayah tersebut. Wahyu menyebut komoditas tembakau masih menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga.

Tidak hanya itu, kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga turut berkontribusi terhadap inflasi, meski dengan andil yang lebih moderat.

Secara konsisten sepanjang 2025, BPS mencatat beberapa komoditas menjadi penyumbang inflasi utama di Sumsel, antara lain emas perhiasan serta sejumlah bahan pangan strategis seperti cabai merah, beras, dan daging ayam ras.

Wahyu menjelaskan, kenaikan harga komoditas pangan tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan permintaan pada akhir tahun, tetapi juga oleh gangguan pasokan akibat bencana alam di daerah pemasok.

“Sebagian kebutuhan pangan Sumsel berasal dari luar daerah, termasuk Pulau Jawa dan Sumatra Barat. Ketika terjadi bencana di wilayah pemasok, pasokan ikut terganggu dan berdampak pada harga,” jelasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia