Sumsel

Kenapa Palembang Terasa Sangat Terik? Ini Penjelasan BMKG Soal Puncak Panas Maret 2026

Kurnia | 4 Maret 2026, 16:30 WIB
Kenapa Palembang Terasa Sangat Terik? Ini Penjelasan BMKG Soal Puncak Panas Maret 2026

AKURAT.CO SUMSEL Cuaca terik yang menyengat beberapa hari terakhir menjadi fenomena langkah di Kota Palembang.

Berdasarkan pantauan Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, suhu maksimum di wilayah ini telah menyentuh angka 33 hingga 34 derajat Celsius.

Kondisi "gerah" yang melanda Bumi Sriwijaya ini ternyata bukan tanpa alasan. Fenomena langit tanpa awan hingga posisi matahari menjadi faktor utama di balik cuaca ekstrem ini.

Ketua Tim Data dan Informasi BMKG SMB II Palembang, Veronica Sinta Andayani, mengungkapkan bahwa saat ini terjadi pengurangan drastis tutupan awan hujan. Akibatnya, sinar ultraviolet (UV) matahari langsung menghujam permukaan bumi tanpa penghalang.

“Semakin sedikit awan, semakin panas suhu siang hari. Saat ini intensitas sinar matahari menembus langsung ke permukaan,” jelas Sinta, Rabu (4/3/2026).

Meskipun curah hujan di Sumatera Selatan mulai menunjukkan tren penurunan, Sinta menyebut potensi hujan lokal masih ada, walau durasinya singkat dan tidak merata.

Senada dengan hal tersebut, Koordinator Pokja Analisis BMKG SMB II, Nadang Pangaribowo, menjelaskan bahwa Palembang sedang berada di periode puncak panas tahunan. Hal ini dipicu oleh gerak semu matahari yang posisinya nyaris tepat berada di atas kepala (zenit) untuk wilayah Indonesia.

“Februari dan awal Maret adalah fase di mana posisi matahari berada hampir tegak lurus di atas kita. Inilah yang membuat radiasi terasa sangat kuat,” papar Nadang.

Uniknya, meski suhu berada di angka 34 derajat Celsius—yang secara teknis belum masuk kategori ekstrem—warga merasakan panas yang jauh lebih "menggigit". Nadang menyebut faktor geografis Sumsel yang kaya akan sungai dan lahan gambut menjadi penyebabnya.

Tingginya penguapan air menciptakan kelembapan udara yang pekat. Uap air yang menumpuk di udara inilah yang memerangkap panas, sehingga kulit terasa lebih gerah dan berkeringat.

“Faktor kelembapan tinggi inilah yang membuat udara terasa menyiksa. Suhu mungkin tidak ekstrem, tapi sensasi panasnya lebih terasa di kulit,” tambahnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia