Skor 1-2 di Liga Champions Ungkap Rapuhnya Lini Tengah dan Ketergantungan Madrid pada Pemain Kunci

AKURAT.CO SUMSEL Real Madrid harus mengakui keunggulan Arsenal dalam laga perempat final Liga Champions yang berlangsung panas di Santiago Bernabeu.
Kekalahan 1-2 ini tak hanya membuat langkah Madrid menuju semifinal terjal, tetapi juga membuka diskusi soal rapuhnya performa mereka belakangan ini, terutama di lini tengah dan pertahanan.
Gol tunggal Madrid dicetak oleh Jude Bellingham pada menit ke-34, namun Arsenal bangkit lewat dua gol yang dilesakkan oleh Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli di babak kedua.
Kekalahan ini merupakan tamparan bagi Los Blancos yang selama ini dikenal sebagai tim dengan mental juara di kompetisi Eropa.
Pelatih Carlo Ancelotti memilih formasi 4-3-3 yang selama ini menjadi andalan, dengan trio Bellingham, Kroos, dan Valverde di tengah.
Namun kehadiran Kroos yang sudah menua serta Valverde yang tampak kelelahan membuat dominasi lini tengah Madrid mudah dipatahkan oleh pressing agresif Arsenal.
Baca Juga: Cerah dan Penuh Pesona, Ini 5 Karakter Unik Para Pencinta Warna Kuning
Arsenal tampil berani dengan pressing tinggi dan pola serangan cepat. Martin Ødegaard menjadi motor penggerak serangan, menyulitkan pertahanan Madrid yang kali ini tanpa Éder Militão yang cedera.
Bellingham kembali mencetak gol, tetapi performanya tampak terisolasi. Tanpa sokongan kreatif yang cukup dari lini tengah dan minimnya suplai dari sisi sayap, pemain muda asal Inggris itu terlihat frustrasi.
Dalam beberapa momen, ia harus mundur jauh ke belakang untuk membangun serangan sendiri.
Ketergantungan Madrid pada performa Bellingham menjadi tanda bahaya. Jika pemain ini dimatikan, permainan Madrid seperti kehilangan arah.
Madrid hanya mencatatkan 46% penguasaan bola dan 3 tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan, berbanding 6 milik Arsenal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






