Sumsel

Bukan Hanya Pangan, Listrik dan Emas Bikin Inflasi Sumatera Selatan Naik di Awal Tahun

Maman Suparman | 3 Februari 2026, 22:00 WIB
Bukan Hanya Pangan, Listrik dan Emas Bikin Inflasi Sumatera Selatan Naik di Awal Tahun

AKURAT.CO SUMSEL Tekanan inflasi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menunjukkan tren kenaikan pada awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) Sumsel pada Januari 2026 berada di angka 3,33 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pencapaian ini dipicu oleh normalisasi tarif listrik serta lonjakan harga emas yang sangat signifikan di pasar domestik.

Statistisi Ahli Madya Statistik Distribusi BPS Sumsel, Tituk Indrawati, menjelaskan bahwa arah inflasi Sumsel kali ini sedikit berbeda dari tren nasional.

Menurutnya, pada Januari tahun lalu terjadi deflasi karena adanya kebijakan diskon tarif listrik, sementara tahun ini kebijakan tersebut sudah tidak diberlakukan lagi.

"Tahun lalu ada diskon tarif listrik sehingga terjadi penurunan harga, sedangkan tahun ini kondisi kembali normal," ujar Tituk dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

Baca Juga: Cegah Inflasi Pangan, Menu Makan Bergizi Gratis di Sumsel Bakal Disesuaikan pada 2026Baca Juga: Cegah Inflasi Pangan, Menu Makan Bergizi Gratis di Sumsel Bakal Disesuaikan pada 2026

Absennya subsidi listrik ini mendongkrak inflasi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga hingga mencapai 10,42 persen, dengan kontribusi terhadap total inflasi sebesar 1,33 persen.

Meski faktor energi berpengaruh besar, komoditas emas perhiasan tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar di Bumi Sriwijaya. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 22,86 persen, menyumbang andil inflasi hingga 1,77 persen.

Lonjakan ini tidak lepas dari tren harga emas global yang terus mendaki. "Di Sumsel, harga emas perhiasan bahkan sempat menembus angka tertinggi sebesar Rp3 juta per gram," jelas Tituk.

Selain emas dan listrik, kelompok pangan bergejolak (volatile food) seperti beras dan daging ayam ras turut memberikan tekanan pada stabilitas harga di awal tahun.

Beberapa komoditas yang menjadi pemicu kenaikan harga di kedua daerah tersebut meliputi tomat, bawang putih, cabai rawit, bayam, hingga kendaraan roda dua (sepeda motor).

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia