Apa Itu DME yang Disebut Bakal Gantikan Gas LPG di Indonesia?

AKURAT. CO SUMSEL - Pemerintah dikabarkan tengah mematangkan proyek penggunaan gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG).
Proyek ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi masyarakat sekaligus menekan impor LPG yang selama ini mencapai 6,3-7 juta ton per tahun.
Kabarnya, proyek tersebut akan dimulai tahun depan.
Baca Juga: Produksi Daging Ayam Petelur Sumsel Capai 11,7 Juta Kg Sepanjang 2024
Sementara untuk saat ini, DME menjadi 1dari 18 proyek hilirisasi yang saat ini sedang difinalisasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Apa Itu DME?
Pembahasan tentang DME secara menyeluruh tertuang di laman resmi Kementerian ESDM.
Baca Juga: Kebun Karet Masih Jadi Primadona, Sumsel Kuasai 1,2 Juta Hektar Lahan Perkebunan
Dalam pembahasan tersebut disebutkan bahwa DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG.
DME juga dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, storage dan handling eksisting.
DME memiliki kandungan panas (calorific value) sebesar 7.749 Kcal/Kg, sementara kandungan panas LPG senilai 12.076 Kcal/Kg.
Baca Juga: Jadwal Uji Coba Timnas Indonesia Jelang Piala Dunia U17 2025, Dibuka Lawan Paraguay Malam Ini
Kendati demikian, DME memiliki massa jenis lebih tinggi sehingga jika dibandingkan kalori antara DME dengan LPG sekitar 1 berbanding 1,6.
Pemilihan DME untuk subtitusi sumber energi juga mempertimbangkan dampak lingkungan.
DME dinilai mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20%.
Baca Juga: Ekspor Sumsel Tembus Rp14,8 Triliun, Kayu Manis Siap Jadi Komoditas Andalan Baru
Sementara LPG menghasilkan emisi 930 kg CO2 per tahunnya.
Harapannya, ketika DME mulai digunakan, emisi karbon dioksida bisa berkurang menjadi 745 kg CO2.
Di samping itu, kualitas nyala api yang dihasilkan DME dinilai lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur.
Baca Juga: Sidang Perdana Kasus Korupsi Pasar Cinde Digelar, Dua Mantan Kepala Daerah Siap Hadapi Dakwaan
DME sendiri merupakan senyawa eter paling sederhana mengandung oksigen dengan rumus kimia CH3OCH3 yang berwujud gas sehingga proses pembakarannya berlangsung lebih cepat dibandingkan LPG.
Uji Terap DME Sudah Pernah Dilakukan
Sebelumnya, Kementerian ESDM melalui Balitbang ESDM telah menyelesaikan uji terap pemakaian DME 100% yang dilakukan di wilayah Kota Palembang dan Muara Enim.
Baca Juga: Dua Motor Raib dalam Sekejap, Warga Plaju Jadi Korban Borongan Curanmor Dini Hari
Pengujian tersebut dilakukan pada bulan Desember 2019 hingga Januari 2020 kepada 155 kepala keluarga.
Secara umum, penggunaan DME disebutkan dapat diterima oleh masyarakat.
Selain itu, uji terap DME 20%, 50% dan 100% juga pernah dilakukan di Jakarta, tepatnya di Kecamatan Marunda, kepada 100 kepala keluarga pada tahun 2017.
Baca Juga: Gagal Curi Motor, Aksi Pencuri di Palembang Dipergoki Pemilik Rumah Saat Subuh
Hasil uji terap menunjukkan penggunaan DME memudahkan pengguna dalam menyalakan kompor, stabilitas nyala api normal, mudah dalam pengendalian nyala api, warna nyala api biru dan waktu memasak lebih lama dibandingkan LPG.
Mengapa Batu Bara?
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto mengatakan, pengembangan proyek gasifikasi ini dilakukan karena Indonesia memiliki pasokan batu bara yang melimpah dan dapat menjadi sumber energi murah untuk masa depan.
Baca Juga: UIN Raden Fatah Perkuat Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus
Menurutnya, kini batu bara bukan lagi masa lalu melainkan masa depan bagi Indonesia.
Lebih lanjut, Turino menyebut jika dalam proyek DME sudah ada isu terkait dengan teknologi dan cadangan batu bara, yakni sekitar 800 juta ton untuk hilirisasi. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









