Sumsel

Gurita Bisnis Michael Bambang Hartono, Konglomerat di Balik Djarum dan BCA yang Wafat di Usia 77 Tahun

Septiyanti Dwi Cahyani | 20 Maret 2026, 06:00 WIB
Gurita Bisnis Michael Bambang Hartono, Konglomerat di Balik Djarum dan BCA yang Wafat di Usia 77 Tahun
Michael Bambang Hartono

AKURAT. CO SUMSEL - Kabar duka datang dari salah satu pengusaha nasional Indonesia.

Michael Bambang Hartono, konglomerat di balik Djarum dan BCA dilaporkan meninggal dunia di Singapura pada Kamis (19/3/2026).

Ia merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam lanskap konglomerasi Indonesia.

Baca Juga: Ketimpangan Gender di Sumsel Masih Terlihat, Ogan Ilir Tertinggi, Muba Terendah

Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, ia berhasil membangun bisnis keluarganya hingga menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

Yakni berawal dari industri rokok kretek yang perlahan berkembang menjadi kelompok usaha lintas sektor, termasuk perbankan, elektronik, properti, dan ekonomi digital.

Nilai kekayaannya yang terus berfluktuasi mengikuti pergerakan pasar menempatkannya secara konsisten dalam jajaran orang terkaya di Indonesia maupun dunia.

Baca Juga: Tok! Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 Hijriah Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026

Lantas, siapa sebenarnya sosok Bambang Hartono dan apa saja gurita bisnis yang ia miliki hingga akhirnya dijuluki konglomerat Indonesia?

Sosok Bambang Hartono

Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939. Ia mewarisi bisnis keluarga setelah ayahnya, Oei Wie Gwan, meninggal dunia pada 1963.

Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Warnai Lebaran di Sumsel, Pemudik Diminta Waspada

Djarum, perusahaan rokok yang diwariskan tersebut kemudian berkembang menjadi produsen kretek besar di Indonesia di bawah kepemimpinan Michael dan Robert.

Ekspansi bisnis mulai dilakukan seiring pertumbuhan industri rokok.

Djarum tercatat melakukan ekspor pertama pada 1972, sekaligus memperluas portofolio produk dan memperkuat jaringan distribusi.

Baca Juga: Mobil Pemudik Terjun ke Jurang di Musi Rawas, Satu Keluarga Selamat dari Maut

Dalam perkembangannya, perusahaan tersebut menjadi salah satu pemain utama di industri tembakau nasional.

Gurita Bisnis Bambang Hartono

Seiring meningkatnya skala bisnis, keluarga Hartono memperluas investasi ke berbagai sektor industri.

Baca Juga: Puncak Mudik Lebaran 2026 Datang Lebih Cepat, Tol Kayuagung–Palembang Tetap Lancar

Salah satu langkah penting adalah pendirian merek elektronik Polytron pada 1975, yang menjadi pintu masuk grup ke sektor manufaktur elektronik konsumen.

Selain itu, grup usaha juga merambah bidang perkebunan, kertas, serta infrastruktur telekomunikasi.

Diversifikasi ini turut mencakup sektor properti premium di Jakarta.

Baca Juga: Sertifikat HPL Tanjung Carat Diserahkan, Gubernur Sumsel Dorong Percepatan Pelabuhan Strategis

Kelompok usaha keluarga diketahui mengelola sejumlah aset komersial strategis, termasuk pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis finansial mereka.

Investasi di Sektor Perbankan

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan bisnis Michael Bambang Hartono adalah masuknya keluarga Hartono ke sektor perbankan melalui investasi di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Baca Juga: Jelang Lebaran 2026, Jasa Penitipan Kendaraan di Palembang Kebanjiran Order, Naik Hingga 50 Persen

Akuisisi saham bank tersebut terjadi setelah krisis ekonomi Asia 1997–1998, ketika kepemilikan BCA berpindah tangan melalui proses restrukturisasi.

Melalui konsorsium investasi dan restrukturisasi kepemilikan, keluarga Hartono secara bertahap memperbesar kendali atas bank tersebut hingga menjadi pemegang saham mayoritas.

Kepemilikan ini kemudian ditempatkan di bawah perusahaan investasi keluarga.

Baca Juga: Dermaga Pasar 16 Ilir Dipadati Pemudik, Jalur Sungai Musi Jadi Andalan Jelang Lebaran 2026

Ekspansi Ekonomi Digital: E Commerce

Memasuki era transformasi digital, kelompok usaha keluarga Hartono juga memperluas investasi ke sektor teknologi dan e-commerce.

Salah satu langkah strategisnya adalah pencatatan Global Digital Niaga, induk dari platform e-commerce Blibli, dalam penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2022 yang berhasil menghimpun dana sekitar 510 juta dollar AS.

Baca Juga: Libur Lebaran 2026, LRT Sumsel Tambah 8 Perjalanan per Hari, Ini Jadwal dan Rutenya

Investasi ini menambah dimensi baru dalam portofolio bisnis keluarga yang sebelumnya lebih dominan di sektor tradisional seperti rokok dan perbankan.

Jumlah Kekayaan Michae Bambangl Hartono

Berdasarkan data real time net worth Forbes per 19 Maret 2026, kekayaan Michael Bambang Hartono tercatat sekitar 17,5 miliar dollar AS Dengan asumsi kurs Rp 16.995 per dollar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 297 triliun.

Baca Juga: Modus Tusuk Gigi di ATM Terbongkar, Pelaku Spesialis Ganti Kartu Gasak Puluhan Juta di Palembang

Perhitungan ini menggambarkan posisi Bambang Hartono sebagai salah satu individu dengan kekayaan terbesar di Indonesia.

Sementara itu, dalam daftar tahunan orang terkaya Indonesia, Hartono bersaudara juga konsisten menempati posisi teratas.

Pada daftar Forbes 2025, kekayaan gabungan keduanya mencapai sekitar 43,8 miliar dollar AS.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.