Sumsel

Cerita Lika-Liku Adyos dengan Bisnis Kedai Kopi nya di Palembang

Muhammad Husni Mushonifi | 20 Januari 2024, 13:27 WIB
Cerita Lika-Liku Adyos dengan Bisnis Kedai Kopi nya di Palembang

AKURAT.CO SUMSEL Bisnis Kopi di Palembang semakin banyak, hampir disetiap kita dapat menemukan coffee shop. Tetapi, ternyata bisnis kopi tak selalu berjalan mulus dengan yang diharapkan.

Seperti halnya Adyos Satrio Triwicaksono yang menceritakan perjalanan bisnis kopi yang ia mulai sejak tahun 2019 silam.

"Sempat ingin menyerah karena merasa sulit, tetapi karena dukungan keluarga dan teman-teman akhirnya bisnis kopi ini terus ada," ujarnya, Sabtu (20/1/2024).

Meski ditahun pertama bisnis nya banyak melalui lika-liku, tetapi Adyos berhasil melewati tahun pertamanya dengan mulus.

Namun, ditahun kedua bisnisnya kembali berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Bagaimana tidak, kala itu Covid-19 yang harus membuat omset bisnisnya turun.

"Saat itu Covid-19 benar-benar berdampak pada kita, omset turun 30 hingga 40 persen," katanya.

Istilah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian memang dirasakan oleh dirinya saat berbisnis kopi. Setelah pandemi selesai bisnisnya pun mulai ramai dan saat ini ia memiliki cabang kedai kopinya tersebut.

"Kedai kopi pertama saya Sangkar Coffee dan yang kedua Shine Co Coffee," ujar Adyos.

Dari bisnis kopi itu, kini Adyos juga mengembangkan bisnis lainnya seperti Weeding Organization (WO), penyedian band dan kopi hajatan.

Baca Juga: Ini Kata Pengamat Politik, Soal Kader Partai yang Membelok Dukungan Capres

"Perlu juga menjaga relasi dengan pelangan-pelangan yang datang, karena semua orang bisa menikmati kopi tempat saya ini," jelasnya.

Adios memberi tahu anak muda yang ingin membuka kedai kopi untuk mempersiapkan diri dari semua kemungkinan. Bisnis kopi tidak selalu menghasilkan keuntungan, tetapi juga tidak selalu mengalami kerugian.

Untuk membangun bisnis kopi, diperlukan dana sebesar antara Rp80 hingga Rp100 juta. Karena modal yang besar ini lah harusnya bisnis kopi bukan sebagai bisnis latahan.

"Kesalahan terbesar bisnis kopi salah satunya adalah ikut-ikutan. Tren kopi memang sedang meningkat. Melihat teman cuan, jadi ikutan buka kedai kopi," jelas dia.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.