Sumsel

Lonjakan Harga Emas Dorong Tren Gadai di Sumbagsel, Palembang Jadi Penyumbang Terbesar

Maman Suparman | 30 Januari 2026, 21:00 WIB
Lonjakan Harga Emas Dorong Tren Gadai di Sumbagsel, Palembang Jadi Penyumbang Terbesar

AKURAT.CO SUMSEL Minat masyarakat terhadap layanan gadai emas di wilayah Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel) terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Kenaikan tersebut dipicu oleh lonjakan harga emas yang terjadi secara konsisten dalam beberapa waktu terakhir, mendorong masyarakat memanfaatkan aset logam mulia sebagai sumber likuiditas cepat.

PT Pegadaian Kantor Wilayah III Sumbagsel mencatat, hingga 28 Januari 2026, nilai Outstanding Loan (OSL) atau total pinjaman aktif nasabah di wilayah Palembang, Jambi, dan Lampung telah mencapai Rp4,91 triliun. Angka ini tumbuh 7,40 persen secara tahunan (year to date/YTD).

Pimpinan Wilayah PT Pegadaian Kanwil III Sumbagsel, Novryandi, mengatakan capaian tersebut merupakan yang tertinggi secara nasional, mencerminkan tingginya respons masyarakat terhadap fluktuasi harga emas.

“Kenaikan harga emas membuat masyarakat semakin aktif memanfaatkan emas sebagai jaminan. Pertumbuhan ini terjadi merata, namun Palembang masih menjadi kontributor terbesar, disusul Jambi dan Lampung,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).

Ia menambahkan, sepanjang sepekan terakhir Januari 2026, nilai pinjaman harian di wilayah Sumbagsel mengalami kenaikan cukup tajam, dengan tambahan rata-rata Rp18 miliar hingga Rp28 miliar per hari.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Melandai Usai Naik Rp1 Juta per Suku

Di sisi lain, tren meningkatnya minat terhadap emas juga menjadi perhatian otoritas fiskal. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumatra Selatan, Rahmadi Murwanto, menilai kecenderungan masyarakat menyimpan emas secara fisik di rumah berpotensi menahan peredaran uang di masyarakat.

“Jika emas hanya disimpan di lemari, maka dana yang digunakan untuk membeli emas tersebut tidak lagi berputar di sektor ekonomi,” kata Rahmadi.

Menurutnya, penyimpanan emas melalui lembaga keuangan atau perbankan dapat menjadi alternatif yang lebih produktif karena tetap memungkinkan dana berkontribusi pada pembiayaan sektor riil.

Sementara itu, Bank Indonesia melihat fenomena ini sebagai bagian dari pergeseran preferensi investasi. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Selatan, Bambang Pramono, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas saat ini sejalan dengan kecenderungan investor yang mulai menghindari instrumen berisiko, seperti saham.

“Kenaikan harga emas adalah respons rasional pasar. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap aman, salah satunya emas,” ujarnya.

Bambang menambahkan, tren tersebut turut berpengaruh pada dinamika pasar keuangan, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), suku bunga, serta nilai tukar, meski masih dalam batas yang dapat dikendalikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
K
Editor
Kurnia