Gabah Sumsel Diburu Pedagang Luar Daerah, Harga Tembus Rp7.700 per Kg

AKURAT.CO SUMSEL Petani padi di Sumatera Selatan (Sumsel) tengah menikmati kenaikan daya tawar hasil panen. Gabah mereka kini diburu pedagang dan penggilingan dari luar daerah dengan harga yang mencapai Rp7.700 per kilogram.
Harga tersebut berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Saat ini, harga gabah di tingkat petani berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram.
Gubernur Sumsel Herman Deru menilai tingginya harga gabah memberikan keuntungan bagi petani.
Menurutnya, pemerintah tidak perlu mempermasalahkan persaingan pembelian gabah selama harga yang diterima petani masih berada di atas HPP.
“Kalau dia di atas Rp6.500, artinya HPP kita Rp6.500, dan ada yang menawarkan lebih tinggi dari situ, tentu menguntungkan petani,” kata Deru saat diwawancarai di Griya Agung, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Kasus ISPA di Sumsel Melonjak, Tembus 47 Ribu Kasus pada Agustus, Palembang Tertinggi
Meningkatnya persaingan pembelian gabah terjadi bersamaan dengan kenaikan produksi padi Sumsel.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 1 September 2026, produksi padi Sumsel pada periode Januari-Agustus 2026 meningkat 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deru menilai munculnya pedagang dari luar daerah merupakan bagian dari mekanisme pasar.
Ia justru mempertanyakan alasan pembeli dari luar Sumsel mampu menawarkan harga lebih tinggi kepada petani.
“Pertanyaannya, kenapa pembeli dari luar sanggup harga lebih tinggi? Apakah pembeli dari luar cukup dengan untung tipis, sementara kita mau untungnya besar?” ujarnya.
Menurut Deru, semakin banyak pembeli yang masuk justru memberikan pilihan bagi petani dalam menentukan penjualan hasil panen.
Meski demikian, ia meminta Perum Bulog tetap berperan dalam menjaga keseimbangan penyerapan gabah di tingkat petani.
Selain harga, Deru menyoroti perbedaan tingkat rendemen beras dari hasil penggilingan gabah di sejumlah wilayah Sumsel.
Ia meminta Bulog memperhatikan faktor tersebut karena rendemen berpengaruh terhadap hasil beras yang diperoleh dari setiap gabah yang digiling.
Deru menyebut hasil pengecekan di salah satu Rice Milling Unit (RMU) Bulog di Palembang menunjukkan rendemen sekitar 51 persen.
Sementara itu, di wilayah lain di Sumsel, rendemen yang diperoleh disebut berada di kisaran 48-49 persen.
“Kenapa di salah satu wilayah lain di Sumatera Selatan ini ada yang 49 persen, 48 atau 49 persen? Kok ada beda? Sementara padi kita kualitasnya sama,” katanya.
Deru meminta perbedaan tersebut ditelusuri dan dikomunikasikan dengan Bulog. Ia juga menyatakan siap menjadi saksi apabila diperlukan dalam proses pengecekan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu







