Sumsel

Produksi Padi Sumsel Naik 5 Persen di Tengah Ancaman Kekeringan

Kurnia | 15 September 2026, 15:02 WIB
Produksi Padi Sumsel Naik 5 Persen di Tengah Ancaman Kekeringan

AKURAT.CO SUMSEL Produksi padi di Sumatera Selatan (Sumsel) tercatat meningkat sekitar 5 persen sepanjang Januari hingga Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan produksi tersebut terjadi di tengah ancaman kekeringan yang mulai melanda sejumlah wilayah Sumsel akibat musim kemarau.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan peningkatan produksi tersebut mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS).

"Alhamdulillah, dari hasil rilis BPS, Januari sampai Agustus 2026 dibanding Januari sampai Agustus 2025, produksi kita meningkat 5 persen," kata Bambang, Selasa (15/9/2026).

Meski produksi meningkat, pemerintah tetap mewaspadai dampak kekeringan terhadap tanaman padi yang saat ini masih berada di lahan.

Salah satu langkah yang disiapkan yakni menyiagakan pompa untuk membantu lahan pertanian yang mulai kekurangan air.

Bambang meminta kelompok tani segera melapor apabila tanaman padi di lahannya mulai terdampak kekeringan. Dengan begitu, bantuan pompa dapat segera diberikan sebelum kondisi tanaman semakin parah.

"Yang kita lakukan pertama, mengamankan pertanaman yang ada di lahan dengan mempersiapkan pompa pendampingan, jangan sampai kekeringan," ujarnya.

Baca Juga: Stagnan Sejak Sepekan Lalu, Ini Daftar Harga Emas Perhiasan Palembang Selasa 14 September 2026

Selain menyiapkan pompa, pemerintah juga mengoptimalkan lahan rawa yang mengalami penurunan muka air selama musim kemarau.

Kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk menanam padi di sejumlah lahan yang sebelumnya tergenang.

Bambang menyebut sekitar 73 persen wilayah Sumsel merupakan lahan rawa. Menurutnya, kondisi ini menjadi potensi bagi sektor pertanian ketika muka air mulai surut.

"Sumatera Selatan 73 persen lahannya itu ada lahan rawa. Ini berkah bagi kita. Selama ini lahan itu tergenang sembilan bulan bahkan lebih, tetapi ketika airnya turun bisa ditanami," jelasnya.

Namun, lahan rawa yang mengering juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan lahan rawa yang rawan terbakar untuk dijadikan lahan pertanian melalui program cetak sawah.

"Lahan-lahan rawa yang berpotensi menjadi karhutla ini harus kita jadikan sawah. Dengan dukungan pemerintah pusat melalui cetak sawah, kita usulkan agar tidak terjadi kebakaran hutan maupun rawa yang menyebabkan asap dan meluas ke lahan lain," kata Bambang.

Di sisi lain, Dinas Pertanian Sumsel juga mengembangkan teknologi padi apung sebagai alternatif budidaya di lahan yang masih tergenang.

Program tersebut telah dikembangkan selama dua tahun melalui kerja sama dengan Bank Indonesia, salah satunya di kawasan Jakabaring, Palembang.

Padi apung dapat menjadi alternatif untuk memanfaatkan lahan rawa, kolam, maupun perairan lain yang masih tergenang.

Meski demikian, produktivitas padi apung saat ini masih berada di bawah padi yang ditanam secara konvensional.

Bambang menyebut produktivitas padi Sumsel saat ini sekitar 5,8 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. Sementara produktivitas padi apung berada di kisaran 4 hingga 4,2 ton GKG per hektare.

"Produktivitas Sumatera Selatan sekarang sekitar 5,8 ton GKG per hektare. Kalau padi apung masih berkisar 4 sampai 4,2 ton," ungkapnya.

Menurut Bambang, teknologi tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan mengingat Sumsel memiliki sekitar 115 ribu hektare lahan lebak tengahan yang berpotensi digunakan untuk budidaya padi saat kondisi lahan tergenang.

Baca Juga: Seleksi Guru SILN-CLC 2026 Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Antisipasi terhadap kekeringan telah dilakukan pemerintah sejak awal tahun. Gubernur Sumsel juga telah menerbitkan surat keputusan terkait gerakan tanam untuk menghadapi potensi dampak El Nino.

Namun, kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober tetap menjadi perhatian pemerintah.

Bambang memastikan pengawalan terhadap tanaman padi akan terus dilakukan, terutama di wilayah yang mulai mengalami kekurangan air.

Ia kembali mengingatkan petani agar tidak menunggu tanaman mengalami kekeringan parah sebelum melapor.

"Kelompok tani yang kekeringan dan ada tanaman padi di lahannya segera melapor kepada kita untuk segera kita antisipasi. Jangan sampai kekeringan," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia