Enam Orang Meninggal Akibat Rabies di Sumsel Sepanjang Tahun 2024

AKURAT.CO SUMSEL Kasus rabies di Sumatera Selatan terus menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Sepanjang Januari hingga Mei 2024, tercatat sebanyak 601 kasus rabies dengan 6 kasus kematian.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumatera Selatan, Ruzuan Effendi menyampaikan bahwa angka kematian akibat rabies telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir.
"Pada 2021, terdapat 2 kasus kematian akibat rabies, dan angka ini meningkat menjadi 4 orang meninggal pada 2023. Namun, sepanjang Januari hingga Mei 2024, kematian akibat rabies mencapai 6 orang," ujarnya, Rabu (11/9/2024).
Kematian akibat rabies ini terutama terjadi di Kabupaten Empat Lawang dan Muara Enim, masing-masing dengan 2 kasus, sementara Lahat dan Ogan Komering Ilir (OKI) mencatat masing-masing 1 kasus kematian.
Kasus gigitan hewan penular rabies pada manusia juga menunjukkan fluktuasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, terdapat 181 kasus gigitan, sedikit menurun menjadi 176 kasus pada 2021.
Namun, angka ini melonjak menjadi 441 kasus pada 2022 dan terus meningkat menjadi 755 kasus pada 2023. Hingga Mei 2024, jumlah gigitan mencapai 607 kasus.
"Kebiasaan masyarakat yang memelihara hewan seperti anjing, kucing, dan monyet tanpa divaksinasi menyebabkan fluktuasi ini. Banyak yang tidak menyadari bahwa hewan peliharaan bisa menjadi sumber utama penularan rabies," jelas Ruzuan.
Baca Juga: Kasus Rabies di Sumsel Capai 601 Sepanjang 2024, Musi Banyuasin Jadi Penyumbang Terbesar
Data terbaru menunjukkan bahwa Kabupaten Musi Banyuasin menjadi wilayah dengan jumlah kasus rabies tertinggi di Sumsel pada 2024, mencatat 183 kasus. Kabupaten Lahat menyusul dengan 130 kasus, disusul oleh Lubuklinggau dengan 90 kasus dan Prabumulih dengan 87 kasus.
Beberapa daerah lain yang mencatat kasus signifikan antara lain Ogan Komering Ulu (OKU) dengan 53 kasus, Pagar Alam dengan 42 kasus, Muara Enim dengan 5 kasus, Empat Lawang dan OKU Selatan masing-masing dengan 4 kasus, serta Musi Rawas dan OKI yang masing-masing mencatat 1 hingga 2 kasus.
Sebaliknya, beberapa kabupaten/kota seperti Banyuasin, Musi Rawas Utara, Ogan Ilir, OKU Timur, Palembang, dan PALI tidak melaporkan adanya kasus rabies sepanjang periode ini.
Selain mencatat kasus rabies pada manusia, DKPP Sumsel juga melakukan pendataan terhadap populasi hewan penular rabies (HPR) di wilayah tersebut. Tercatat ada sekitar 194.220 HPR di Sumsel, yang sebagian besar terdiri dari anjing, kucing, dan monyet.
Kabupaten Lahat memiliki populasi HPR tertinggi dengan sekitar 30 ribu hewan, diikuti oleh OKU Selatan dan Banyuasin yang masing-masing memiliki sekitar 20 ribu HPR. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 17 Oktober 2026, Bagaimana Nasib Asmara dan Keuangan?
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu







