Manfaat Genteng Karet untuk Konstruksi Bangunan dan Upaya Hilirisasi Karet di Sumsel

AKURAT.CO SUMSEL Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatera Selatan (Sumsel) mulai melirik potensi besar penggunaan getah karet sebagai bahan baku industri konstruksi. Inovasi yang disebut dengan program "Gentengisasi" ini diharapkan menjadi lokomotif baru hilirisasi karet yang menyentuh langsung para petani di pedesaan.
Sekjen Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian, mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan momentum krusial untuk meningkatkan nilai tambah komoditas karet nasional di tengah tantangan harga pasar global.
"Program gentengisasi ini bukan sekadar ide, tapi momentum untuk mendorong hilirisasi karet langsung dari kampung-kampung karet," ujar Rudi, Sabtu (7/2/2026).
Inovasi ini memanfaatkan campuran karet dengan berbagai material konstruksi seperti semen, pasir, dan bahan aditif tertentu. Selain ramah lingkungan, produk ini dinilai memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan genteng konvensional.
Menurut Rudi, karet juga bisa dikombinasikan dengan material alami lainnya seperti serat kelapa atau bambu untuk menghasilkan genteng komposit yang kokoh.
Baca Juga: Hilirisasi di Kampung Karet, Apkarindo Sumsel Usul Lateks Rakyat Jadi Campuran Program Gentengisasi
"Karet dapat diolah menjadi genteng yang fleksibel namun tetap tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem melalui proses pencampuran bahan yang tepat," jelasnya.
Salah satu keunggulan teknis yang ditonjolkan adalah bobot genteng yang lebih ringan. Material aspal karet yang dicampur semen diklaim memiliki ketahanan tinggi terhadap guncangan, sehingga sangat cocok diaplikasikan pada wilayah yang rawan gempa.
Karakteristik karet yang elastis memberikan fleksibilitas pada struktur atap, namun tetap memiliki kemampuan mengeras yang baik setelah melalui proses pencetakan.
Meski potensinya besar, Rudi mengakui bahwa perwujudan genteng karet ini membutuhkan riset mendalam terkait formulasi kimia dan ketahanan jangka panjang. Secara teknis, karet harus melalui tahap vulkanisasi atau depolimerisasi terlebih dahulu untuk meningkatkan kekuatan strukturalnya.
Oleh karena itu, Apkarindo Sumsel menaruh harapan besar kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk turun tangan melakukan penelitian lebih lanjut.
"Kami sangat berharap para peneliti di BRIN dapat melirik potensi ini dan mewujudkan standar produksi genteng karet yang layak secara industri. Pengembangan lebih lanjut sangat diperlukan agar produk ini bisa diproduksi secara massal dan terserap pasar," pungkas Rudi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Pelajar 15 Tahun Dikeroyok hingga Dibacok di Palembang, Pelaku Disebut dari 5 Sekolah
- 4PKH Tahap 3 Cair Agustus 2026, Cek Penerima Cukup Pakai NIK KTP
- 5Jadwal Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 di Plaza 7 Ulu Palembang
- 6Daftar Wilayah Terdampak Pemadaman Listrik PLN Palembang Sabtu 15 Agustus 2026
- 7Balasan Menohok Iran Usai Trump Nyatakan Bakal Deklarasikan Selat Hormuz Milik AS
- 8Video Pengeroyokan Pelajar Beredar, Polisi Cek TKP di Demang Lebar Daun Palembang
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun








