Sumsel

Karhutla Makin Ganggu Aktivitas Warga, Herman Deru Minta Operasi Hujan Buatan Diperbanyak

Kurnia | 5 September 2026, 18:15 WIB
Karhutla Makin Ganggu Aktivitas Warga, Herman Deru Minta Operasi Hujan Buatan Diperbanyak

AKURAT.CO SUMSEL Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) mulai berdampak terhadap aktivitas dan kesehatan masyarakat.

Kondisi tersebut membuat Pemerintah Provinsi Sumsel meminta operasi modifikasi cuaca (OMC) diperkuat sepanjang September 2026.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan pihaknya telah meminta dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperbanyak pelaksanaan OMC. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mendatangkan hujan, khususnya di wilayah yang rawan karhutla.

"Untuk mengoptimalkan kerja tim OMC, kami meminta BNPB memperbanyak kegiatan operasi pada September 2026 ini," kata Herman Deru, Sabtu (5/9/2026).

Menurutnya, tim OMC sejauh ini telah melakukan 54 kali operasi untuk memicu pertumbuhan awan hujan. Namun, hujan yang dihasilkan belum turun secara merata di seluruh wilayah Sumsel.

Baca Juga: Dikejar Warga Usai Curi Motor, Pelaku di Palembang Berujung Babak Belur

Herman Deru menyebut hujan baru terjadi di beberapa titik sehingga belum cukup untuk membantu mengatasi kondisi lahan yang kering di sejumlah daerah.

“Saya berterima kasih kepada semua satgas yang telah berbuat banyak. Ini bentuk usaha bersama, dari 54 kali tim OMC turun mengupayakan hujan buatan, baru beberapa titik saja hujan berhasil turun di Sumsel,” ujarnya.

Selain mengandalkan OMC, Pemprov Sumsel juga memperkuat Satgas Gabungan Penanggulangan Karhutla. Tim gabungan diminta meningkatkan upaya pencegahan sekaligus pemadaman di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Beberapa daerah yang menjadi perhatian di antaranya Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Musi Banyuasin.

Herman Deru mengatakan kondisi cuaca yang masih panas dan minim hujan membuat penanganan karhutla semakin sulit. Kekeringan juga menyebabkan ketersediaan sumber air untuk pemadaman menjadi terbatas.

"Sekarang ini curah hujan masih sangat rendah, untuk memaksimalkan penanggulangan karhutla perlu dilakukan OMC atau hujan buatan dan kegiatan operasi darat," katanya.

Menurut Herman Deru, pemadaman menggunakan helikopter melalui water bombing juga menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah waktu penerbangan yang dibutuhkan untuk mencari sumber air.

Selain itu, penerbangan dan proses pemadaman juga harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

Karena itu, ia menilai operasi darat harus semakin diperkuat untuk mempercepat penanganan titik api.

"Pemadaman melalui pengeboman air dari helikopter membutuhkan waktu penerbangan yang lama untuk mendapatkan air, juga dibatasi SOP. Oleh karena itu, yang perlu diperkuat adalah upaya pemadaman melalui darat satgas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni dan unsur lainnya," kata Herman Deru.

Dengan kombinasi OMC, pemadaman udara, dan operasi darat, pemerintah berharap penanganan karhutla di Sumsel dapat lebih cepat.

Terlebih, kondisi asap yang mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat membutuhkan penanganan yang lebih intensif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia