Sumsel

Hotspot Sumsel Tembus 1.079 Titik, Banyuasin Tertinggi Capai 394 Titik

Kurnia | 4 September 2026, 19:00 WIB
Hotspot Sumsel Tembus 1.079 Titik, Banyuasin Tertinggi Capai 394 Titik

AKURAT.CO SUMSEL Sebaran titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan kembali melonjak. Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang diakses Jumat (4/9/2026) pukul 05.00 WIB mencatat sebanyak 1.079 titik hotspot di wilayah Sumsel.

Angka tersebut meningkat 420 titik hanya dalam dua hari. Pada Rabu (2/9/2026), hotspot Sumsel masih berada di angka 659 titik, kemudian naik menjadi 926 titik pada Kamis (3/9/2026).

Kenaikan tersebut menunjukkan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di tengah kondisi kering yang melanda sejumlah wilayah Sumsel.

Dari seluruh kabupaten dan kota yang terpantau, Banyuasin menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni mencapai 394 titik.

Disusul Musi Banyuasin sebanyak 228 titik dan Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 171 titik.

Selanjutnya, hotspot terpantau di Muara Enim sebanyak 112 titik, Ogan Ilir 50 titik, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 28 titik, OKU 20 titik, OKU Timur 20 titik, Musi Rawas Utara 16 titik, Musi Rawas 15 titik, Lahat 11 titik dan Empat Lawang 5 titik.

Baca Juga: Kebakaran Gambut di Kebun Raya Sriwijaya Ogan Ilir Sulit Dipadamkan, Api Bisa Menyala dari Bawah Tanah

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan, kenaikan jumlah hotspot terjadi di tengah upaya penanganan karhutla yang terus dilakukan oleh tim gabungan.

Menurut dia, hasil patroli udara dan darat Satgas Karhutla menemukan puluhan kejadian kebakaran yang tersebar di sejumlah wilayah.

"Hasil patroli udara dan darat oleh tim Satgas Karhutla mengidentifikasi 75 kejadian karhutla dengan sebaran firespot terdeteksi berada di 14 wilayah. Tren karhutla pada September ini sudah 165 kejadian," ujar Sudirman.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena titik panas dapat menjadi indikasi awal munculnya kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan vegetasi yang mudah terbakar.

Tim gabungan pun terus melakukan pemantauan untuk mencegah api meluas.

Sudirman mengatakan penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman dari darat. Tim juga mengerahkan dukungan udara untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses.

Sejumlah upaya dilakukan, mulai dari patroli darat dan udara, pemantauan hotspot, pemadaman langsung hingga pengerahan helikopter untuk water bombing.

"Penanganan terus diperkuat melalui pemadaman darat dan udara, termasuk pengerahan helikopter water bombing, patroli udara, operasi modifikasi cuaca, pemantauan hotspot, serta pelibatan personel gabungan dan masyarakat," katanya.

Peningkatan hotspot juga menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran. Asap hasil pembakaran lahan dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah lain.

Dampak asap mulai terlihat dari kondisi jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang.

Sudirman menyebut jarak pandang di kawasan bandara pada pukul 08.00 WIB terpantau sekitar 3 kilometer dengan kondisi cuaca berasap.

"Tingginya jumlah titik panas tersebut turut berdampak pada kondisi udara. Jarak pandang di Bandara SMB II Palembang jam 8 pagi terpantau sekitar 3,0 kilometer (km) dengan kondisi cuaca berasap," jelasnya.

Pantauan regional Haze Situation juga menunjukkan kabut asap terdeteksi hampir di seluruh wilayah Sumsel.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kabut asap, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.

Pemerintah bersama Satgas Karhutla masih melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah titik untuk mencegah kebakaran meluas serta menekan dampak asap terhadap masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia