Sumsel

Inflasi Sumsel Agustus 2026 Capai 2,60 Persen, Harga Emas hingga Beras Jadi Pemicu

Kurnia | 2 September 2026, 22:00 WIB
Inflasi Sumsel Agustus 2026 Capai 2,60 Persen, Harga Emas hingga Beras Jadi Pemicu
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Agustus 2026 sebesar 2,60 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi pada Agustus 2025.

Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan perkembangan inflasi tahunan Sumsel menunjukkan tren yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kembali kita lihat trennya bahwa inflasi YoY tahun 2026 untuk bulan Agustus ini lebih rendah dibandingkan [Agustus] tahun 2025,” kata Wahyu, Rabu (2/9/2026).

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Sumsel pada Agustus 2026. Kelompok tersebut memberikan andil sebesar 0,83 persen dengan perubahan harga 2,65 persen.

Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,75 persen dengan tingkat inflasi 9,02 persen.

Sementara kelompok transportasi memberikan kontribusi 0,44 persen dengan perubahan harga sebesar 3,44 persen.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Ancam Penerbangan Palembang, Bandara SMB II Siapkan Reschedule hingga Refund

Sejumlah komoditas tercatat turut mendorong inflasi tahunan Sumsel. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, bensin, beras dan minyak goreng.

Jika dilihat berdasarkan wilayah pemantauan inflasi, Muara Enim mencatat inflasi tahunan tertinggi di Sumsel, yakni 3,26 persen.

Selanjutnya, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,95 persen di Lubuk Linggau, 2,48 persen di Palembang dan 2,47 persen di Ogan Komering Ilir (OKI).

Wahyu mengatakan tingginya inflasi tahunan di Muara Enim tetap perlu menjadi perhatian. Meski demikian, angka inflasi year to date (YtD) daerah tersebut masih berada pada level 1,78 persen.

“Ini menjadi perhatian untuk Muara Enim, meskipun YoY-nya tinggi 3,26 persen, masih moderat inflasi year to date (YtD) di 1,78 persen. Sehingga perlu antisipasi empat bulan ke depan agar tetap konsisten inflasinya di titik yang rendah,” jelasnya.

Sementara itu, secara bulanan, Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,06 persen pada Agustus 2026.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,07 persen. Adapun komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi bulanan tersebut adalah emas perhiasan.

Wahyu menyebut sejumlah perkembangan harga selama Agustus turut memengaruhi laju inflasi Sumsel.

Di antaranya perubahan harga bahan bakar minyak, khususnya Pertamax Turbo, fluktuasi harga emas serta penurunan sejumlah komoditas hortikultura akibat pasokan yang melimpah.

Di sisi lain, kenaikan harga beras dan daging ayam ras juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi. Kenaikan harga daging ayam ras salah satunya dipengaruhi meningkatnya permintaan.

Berbagai langkah pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah turut menjadi faktor dalam menjaga laju inflasi Sumsel.

“Artinya, capaian inflasi Sumsel masih cukup terkendali, bahkan lebih rendah dibandingkan capaian di tingkat nasional,” pungkas Wahyu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia